Ganjar Pranowo Minta Daerah Rawan Bencana Merapi Gelar Simulasi Pengungsian Sesuai Protokol Covid-19

Ganjar Pranowo meminta daerah yang berada di kawasan rawan bencana Gunung Merapi untuk menggelar simulasi pengungsian

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Rendika Ferri K
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat diwawancarai seusai rapat penanganan Covid-19 bersama Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekda Kota Magelang di Kantor Pemkot Magelang, Kamis (16/7/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, meminta daerah yang berada di kawasan rawan bencana Gunung Merapi yakni Klaten, Boyolali dan Magelang, dapat melakukan simulasi terlebih dahulu.

Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, dan seandainya harus ada pengungsian, perlu ada latihan dulu karena melihat pandemi Covid-19 yang masih ada.

"Semuanya kita minta untuk melakukan simulasi. Dari BPPTKG dan badan geologi semua memberikan informasi, kami ingin mengecek kesiapsiagaan karena terkait dengan seandainya harus ada pengungsian, karena sedang ada Covid-19, maka kita minta untuk latihan," kata Ganjar, Kamis (16/7/2020), seusai rapat perkembangan Covid-19 dengan Wali Kota Magelang di kantor Pemkot Magelang.

Ganjar mencontohkan model seperti di Jepang, di mana terdapat hall atau aula yang dibatasi menggunakan kardus-kardus yang ditempati per keluarga.

Pihaknya sudah meminta Boyolali dan Klaten untuk melakukan simulasi. Kemudian ia melihat juga kesiapan dari Kabupaten Magelang.

"Kemarin saya kasih contoh modelnya seperti ada di Jepang. Kalaui ada hall, itu dibatasi pakai kardus. Per keluarga. Saya kemarin minta yang boyolali sama klaten, tolong simulasi. Saya sekarang ingin lihat di kabupaten Magelang," tuturnya.

Ganjar juga melihat Sister village atau desa bersaudara juga masih efektif.

Namun, perlu ada sosialisasi lagi kepada warga karena terdapat Covid-19 ini beberapa warga menjadi enggan.

Edukasi pun dilakukan dengan pengetahuan dan pemahaman soal physical distancing dan protokol kesehatan.

"Sister village efektif. Karena cuma kemarin ada covid, kejadian yang Boyolali, ada yang tidak mau sister village karena ada covid. Jadi perlu ada sosialisasi dari kita. Justru yang dikhawatirkan adalah reaksi dari merapi, sehingga kita harus siaga. Sistem ini mereset semua. Dari dulu yang baik-baik, menjadi takut. Maka edukasinya terus kita jalankan," ujarnya.

Soal peningkatan aktivitas Gunung Merapi, Ganjar menganggap peningkatan masih terkendali dan bagus, meskipun memang ada penggemukan beberapa sentimeter pada kubah.

Jalur evakuasi juga mesti beberapa diperbaiki. Sister village bisa diterapkan dan dijaga. Terpenting adalah ilmu untuk physical distancing dan protokol kesehatan

"Beberapa memperbaiki jalur evakuasi. Peningkatan masih terkendali bagus, jadi ada penggemukan setengah sentimeter, penggemukan. Sister village tetap bisa diterapkan dan harus dijaga, Tinggal kita ajar ilmu baru soal physical distancing dan protokol kesehatan," pungkas Ganjar.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto, mengatakan saat ini belum ada rencana simulasi (evakuasi dan pengungsian sesuai protokol Covid-19) karena sedang berada pada level II.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved