Tak Sembarangan, Ternyata Jumlah Lipatan atau Wiru Blangkon Ada Filosofinya
Blangkon yang dibuat Winarto memiliki 17 wiru dan 21 wiru. Menurutnya 17 wiru tersebut memiliki sebuah filosofi
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNjogja.com Yogyakarta -- Dirumahnya yang berlokasi di daerah Bugisan, Wagimin Darmowiyono menceritakan awalnya merintis usaha blangkon.
Bagi orang Jawa, Blangkon biasanya digunakan sebagai penutup kepala yang sarat akan kebudayaan Jawa.
Wagimin menceritakan berawal dari orangtuanya yang tidak merestuinya sebagai seorang supir.
Orangtua Wagimin merestuinya untuk menjalankan usaha sebagai pengrajin blangkon.
"Waktu itu Januari 1975 saya menjadi supir namun orangtua saya tidak merestui jika saya menjadi supir. Orangtua merestui untuk menjadi pengrajin blangkon," tuturnya Sabtu (11/7/2020).
Ia belajar membuat blangkon dari tetangganya.
Lambat laun, ia mulai mendirikan usaha blangkon sendiri bersama dengan istrinya.
"Istri saya sangat mendukung semua langkah saya," ucapnya.
Kini usaha pembuatan blangkon diteruskan oleh putra keduanya yang bernama Wibut Winarto.
Winarto mengatakan untuk produksi blangkon yang dibuatnya dijual di Pasar Beringharjo dan langganan perias.
"Bahkan mantan Presiden Suharto juga pernah memesan blangkon disini dan juga Tienuk Riefki seorang maestro rias pengantin asal Yogyakarta," katanya.
Untuk memproduksi blangkon tersebut, ia dibantu oleh 11 orang karyawan.
Terdapat 3 model blangkon yang dibuat oleh Winarto yaitu model adat wilayah, model tokoh pada jaman Mataram Islam dan model kreasi.
Selain itu, terdapat juga perbedaan antara produk buatannya dengan produksi lain yaitu terletak pada jumlah lipatan atau wiru.
Blangkon yang dibuat Winarto memiliki 17 wiru dan 21 wiru.
• Riwayat Tujuh Pasien Baru Covid-19 Daerah Istimewa Yogyakarta, Bantul Hingga Kulon Progo
• Dory Harsa Lempar Pujian di Atas Panggung, Nella Kharisma Langsung Grogi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tak-sembarangan-ternyata-jumlah-lipatan-blangkon-ada-filosofinya.jpg)