Bisnis
Kisah Supardi, Pengrajin Anyaman Bambu dari Sleman Berjuang di Ketatnya Persaingan
Supardi menceritakan, mulai 1989 ia mendapatkan penawaran untuk mendalami desain di Jakarta selama setahun.
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Ari Nugroho
Untuk barang yang diproduksi tergantung dengan pesanan dari konsumen.
"Kalau tidak ada pesanan, kami juga sudah ada barang-barang yang sudah laku di pasar seperti tempat buah, tempat tisu dan cup lampu," ucapnya.
Dalam menjalani usahanya tersebut ia selalu mengutamakan kualitas baik dari kualitas bambu, barang dan tidak kalah penting kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Selain itu, untuk jenis bambu yang digunakan juga tidak sembarangan.
"Bambu yang masuk ke Brajan sudah memiliki karakter sendiri tidak sembarang bambu. Biasanya kami menggunakan jenis bambu apus," katanya.
• Bantu Pengembangan Hutan Bambu di Gunung Kidul, Taspen Beri Bantuan Senilai Rp 290 Juta
Proses finishing juga perlu dilakukan agar tidak mudah berjamur.
Omzet yang didapatkan oleh Supardi tergantung dari order yang masuk.
"Kalau pas ada partai besar bisa sekitar Rp 50 juta an sedangkan kalau pas sepi sekitar Rp 2 juta. Apalagi semenjak adanya pandemi Covid-19 ini," tuturnya.
Supardi mengatakan, semenjak pandemi Covid-19 pada Maret lalu, baru mendapatkan sekali orderan.
"Sebelum lebaran kemarin mendapatkan satu orderan berupa tempat make up sebanyak 650 pcs dalam waktu 10 hari dan itu mendapatkan omzet 10 juta," ujarnya.
Namun demikian, ia bersyukur dengan adanya kerajinan anyaman bambu ini dapat memenuhi kebutuhan ekonomi khususnya masyarakat di Dusun Brajan.
Selain itu, dapat mengembangkan kerajinan ini dalam ketatnya persaingan sehingga dituntut untuk lebih aktif lagi dalam mencari pasar. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/supardi-pemilik-sentra-anyaman-bambu-pring-gedhe-di-dusun-brajan.jpg)