Cara Pekerja Seni Menyesesuaikan Diri dengan Kondisi Pandemi Covid-19

Cara Pekerja Seni di Yogyakarta Menyesesuaikan Diri dengan Kondisi Pandemi Covid-19

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM/tangkapan layar
Diskusi Daring UGM Talks #11 dengan tema "Strategi Berekspresi Pekerja Seni di Masa Pandemi Covid-19". 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Proses kreatif para pekerja seni terdampak cukup signifikan oleh kondisi pandemi Covid-19. Banyak di antara mereka yang pekerjaannya dihentikan dan proses kreatif harus ditunda atau dibatalkan.

Seniman asal Yogyakarta, Paksi Raras Alit mengatakan kondisi pandemi harus dipandang sebagai tantangan baru para pekerja kreatif untuk bisa bersiasat, agar memiliki daya tahan hidup kembali.

"Mau tidak mau harus diakui seniman atau pelaku kreatif sawah utamanya di situ.
Harus ngapain lagi? Bisa saja misalnya alih profesi ke profesi lain, misalnya kuliner. Atau rencana kreatifnya beralih media, nah ini yang banyak dilakukan teman-teman," ujar Paksi dalam diskusi daring UGM Talks ke-11, Rabu (24/6/2020).

Dia menjelaskan, proses kreatif kesenian dan kebudayaan pada akhirnya dituntut mengalihmediakan ruang keseniannya.

Panggung virtual tersebut menurutnya dapat memanfaatkan platform seperti YouTube dan Zoom.

Namun demikian, kata dia, tantangan penyesuaian dan proses adaptasi yang perlu dilakukan sangat banyak.

"Berakrab-akrab dengan teknologi itu pasti, lalu kemasan-kemasan kreatif kita harus benar-benar dikompromikan," ungkapnya.

"Sampai hari ini pun sependek pengamatan saya teman-teman masih bereksperimen, masih trial, bagaimana menemukan platform terbaru dan bisa memonetisasi potensi seni budayanya di era yang menuntut perubahan ini," sambung Ketua Umum Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019 itu.

Ramalan Shio Kamis 25 Juni 2020 : Daftar Pemilik Shio yang Beruntung Hari Ini

Bukan Jampi-jampi! Ini Rahasia Saeful, Buruh Serabutan yang Nikahi Dua Wanita Sekaligus

Senada dengan Paksi, professional master of ceremonies (MC), Fira Sasmita juga mengaku melakukan banyak adaptasi baru dengan situasi pandemi saat ini.

"Saya juga akhirnya lebih ke agar tetap punya kegiatan, berjualan makanan. Tantangan untuk teman-teman MC mau nggak mau yang tadinya hanya bekerja di off air jadi bekerja di on air," ungkapnya.

Dia menjelaskan, jika biasanya bekerja di atas panggung, saat ini panggung tersebut menjadi di depan kamera. Menurutnya, hal itu menuntut MC dan pekerja kreatif untuk belajar kembali.

"Yang biasanya kita hidupnya dari energi orang-orang yang ada di depan kita, sekarang jadi harus latihan performance di depan kamera.

Selain itu, persiapan lain seperti menyiapkan device (peralatan) semisal kamera yang bagus. Di sisi lain orang yang menonton lebih banyak, peluang bagi kita juga untuk lebih dikenal," urai alumnus Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM itu.

Seniman lainnya, Dibyo Primus yang banyak menciptakan kata-kata jenaka yang dia namakan 'budidaya kata-kata jenaka' mengatakan di tengah pandemi ini usahanya tersebut masih cukup digandrungi.

"Budidaya kata-kata jenakan alhamdulillah masih bisa jualan. Saya membuat quote-quote lucu, misalnya untuk di restoran agar orang yang menunggu tidak merasa menunggu," bebernya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved