Pendidikan
Mahasiswa UNY Olah Daun Waru Jadi Salep Anti Inflamasi
Mahasiswa Prodi Biologi Fakultas MIPA UNY meneliti salep dari daun waru untuk menghambat pertumbuhan penyakit oleh bakteri Staphylococcus aureus.
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Proses penyembuhan luka dapat dipercepat dengan senyawa memiliki sifat anti-inflamasi.
Senyawa anti-inflamasi ini salah satunya terkandung pada daun waru.
Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas MIPA UNY meneliti salep dari daun waru untuk menghambat pertumbuhan penyakit oleh bakteri Staphylococcus aureus.
Mereka adalah Dwi Rahmawati, Aulia Eka Rahayu dan Titi Ari Wulandari.
• UNY Sosialisasikan Program PMB ke SMA/SMK Gunungkidul
Dwi Rahmawati mengungkapkan daun waru mempunyai senyawa metabolit sekunder saponin, flavonoid dan lima senyawa fenol yang termasuk dalam senyawa anti-inflamasi.
"Saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga efektif untuk menyembuhakan luka terbuka, sedangkan tanin dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik dan obat luka bakar," kata dia, Rabu (24/6/2020).
Flavonoid dan polifenol mempunyai aktivitas sebagai antiseptik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui besarnya konsentrasi salep daun waru untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus.
Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh salep daun waru (Hibiscus tiliaceus) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.
"Proses penelitian membutuhkan waktu sekitar 1-1.5 bulan," ungkapnya.
• Sejumlah Sekolah di Yogyakarta Buka Posko Layanan Terkait Kendala Saat Pengajuan Akun PPDB
Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Organik dan Laboratorium Analitik FMIPA UNY.
Bahan yang dibutuhkan untuk membuat salep yakni adalah daun waru, bakteri uji Staphylococcus aureus, aquades steril, etanol 96 persen.
Selain itu tablet Ciprofloxacin 500 mg, Nutrient Agar (Oxoid), H2SO4 0,36N, BaCl2. 2H2O 1,175 persen, NaCl 0,9 persen, adeps lanae, vaselin album dan trietanolamine (TEA).
Aulia Eka Rahayu menjelaskan langkah pertama pembuatan salep yakni dengan membuat ekstrak daun waru.
Setelah itu dibuat mikroemulsi yang terdiri dari ekstrak daun waru, adeps lanae, vaselin album, m.f.salep, TEA dan aquades.
Sediaan salep yang akan dibuat dalam penelitian ini memiliki konsentrasi ekstrak daun waru yang berbeda-beda, yaitu 13 persen dan 26 persen untuk 2 kali pemakaian dalam sehari selama 7 hari pengamatan.
• Dosen Pendidikan Tata Boga FT UNY Kreasikan Video Sebagai Media Pembelajaran Bagi Mahasiswa
Ekstrak daun waru dicampur dengan bahan lain sampai tercampur rata didalam beaker glass dengan menggunakan magnetic stirrer pada suhu 30-35±2°C, kemudian dicampurkan dengan bahan lain.
"Setelah itu, ditambahkan aquades sampai volume yang dikehendaki, kemudian tambahkan TEA tetes demi tetes sambil diaduk perlahan sampai terbentuk gel yang jernih," ungkapnya.
Dwi mengungkapkan apabila konsentrasi ekstrak daun waru harus lebih banyak dibandingkan dengan bahan-bahan pendukung sehingga salep daun waru lebih maksimal.
"Tekstur salep yang lengket salah satunya kendalanya, jadi perlu diperhatikan komposisi bahan nya biar memudahkan saat uji ke bakterinya," paparnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mahasiswa-uny-olah-daun-waru-jadi-salep-anti-inflamasi.jpg)