Breaking News:

Yogyakarta

PPMAY Beri Masukan untuk Pedestrian Malioboro

PPMAY memiliki beberapa masukan untuk perbaikan pedestrian di kawasan Malioboro.

istimewa
Petunjuk jalan searah yang berada di Malioboro, Yogyakarta 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Paguyuban Pengusaha Malioboro dan Ahmad Yani (PPMAY) memiliki beberapa masukan untuk perbaikan pedestrian di kawasan Malioboro.

Koordinator Paguyuban Pengusaha Malioboro dan Ahmad Yani (PPMAY), Karyanto Yudomulyono mengatakan ada beberapa zebra cross yang sudah hampir hilang catnya, sehingga dapat membahayakan keselamatan pejalan kaki.

“Zebra cross di Jalan Malioboro banyak yang terhapus sehingga membahayakan nyawa orang. Kami sudah melapor ke Dinas Perhubungan sejak setahun lalu, sampai sekarang belum ada tindakan untuk dicat ulang,” ujar Karyanto saat dihubungi Tribunjogja.com, Sabtu (20/6/2020).

PPMAY Menolak Pembatasan Pengunjung Malioboro

Selain itu, ia pun menyoroti peraturan baru di jalur pedestrian Maliboro.

Sudah sekitar dua pekan terakhir pedestrian Malioboro dibuat satu arah.

Pedestrian sebelah barat diperuntukkan bagi pejalan kaki dari arah selatan ke utara, sementara pedestrian sebelah timur diperuntukkan bagi pejalan kaki dari utara ke selatan.

Adapun di masing-masing jalur disediakan pintu masuk, pedestrian timur di depan Hotel Grand Inna Malioboro dan pedestrian barat di depan Hamzah Batik.

Hal ini dilakukan untuk mengatur pergerakan pejalan kaki untuk meminimalisir penularan Covid-19.

Menanggapi hal ini, Karyanto memiliki pandangan lain.

BREAKING NEWS : Update Covid-19 DIY 20 Juni 2020, Kasus Positif Bertambah 8

“Orang yang mau menyeberang di tengah jalan tidak bisa, ini jadi kasihan. Harus muter dulu. Harusnya pengunjung yang mau menyeberang boleh saja, jangan muter-muter,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengeluhkan rencana peraturan baru Pemerintah Kota Yogyakarta yang akan membatasi jumlah pengunjung di Malioboro.

Jika sebelumnya kapasitas pengunjung dapat mencapai 5.000 hingga 10.000 orang, maka akan dibatasi menjadi maksimal 2.500 orang.

“PPMAY keberatan kalau dikurangi. Kalau dikurangi orang-orang akan takut ke Malioboro. Sekarang rata-rata omzet toko hanya 30 persen dari kondisi sebelum pandemi, kalau dikurangi ya ambrol. Toko-toko tambah susah,” ungkapnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Maruti Asmaul Husna
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved