Bisnis
Pisau Batik Logam Buatan Warga Bantul Ini Berhasil Dipasarkan hingga ke Prancis dan Malaysia
Sudiman mengubah pisau tradisional warisan orang tuanya menjadi pisau modern atau pisau batik logam dengan caranya sendiri secara otodidak.
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Gaya Lufityanti
"Kalau di Malaysia permintaan 1 bulan sekali, saya tidak sanggup, bisanya 3 bulan sekali. Permintaannya banyak bisa 250 kodi sampai 300 kodi. Bukannya saya tidak sanggup untuk membuatnya dan membayar karyawan namun takut tidak tepat waktu saat pengiriman," imbuh Sudiman.
• Hikmah di Balik Pandemi Virus Corona, Lusi Sukses Pasarkan APD Motif Batik Lurik
Dalam pengerjaannya, ia dibantu oleh 6 orang karyawannya yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.
"Kalau untuk membuat pisau dapur yang batik untuk sementara ini kurang lebih 50 buah per hari. Sedangkan untuk pisau carving yang membuat hanya orang tertentu. Tidak semua karyawan bisa membuat karena rumit. Hanya 1 atau 2 orang yang saya ijinkan. Karena kalau pisau carving salah membuatnya bisa fatal tidak bisa diubah. Jadi harus teliti dan jeli. Sedangkan kalau pisau dapur jika salah pembuatan masih bisa diubah," terangnya.
Sudiman mengungkapkan untuk omzet yang diperoleh perbulannya tergantung dengan pemesanan.
Namun ia menaksir sekitar kurang lebih bisa mendapatkan Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pisau-batik-logam-buatan-warga-bantul-ini-berhasil-dipasarkan-hingga-ke-prancis-dan-malaysia.jpg)