Breaking News:

Kota Yogyakarta

PKL Tak Sepakat Pembatasan Pengunjung Malioboro, yang Penting Petugas Selalu Mengingatkan

Dalam satu hingga dua pekan terakhir, pengunjung kawasan Malioboro berangsur-angsur mengalami peningkatan. Bahkan, sudah terdapat pengunjung dari luar

TRIBUNJOGJA.COM / Christi Mahatma Wardhani
Pintu masuk Malioboro di sisi timur, pengunjung di pedestrian timur berjalan menuju arah selatan, Kamis (11/06/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Dalam satu hingga dua pekan terakhir, pengunjung kawasan Malioboro berangsur-angsur mengalami peningkatan.

Bahkan, sudah terdapat pengunjung dari luar DIY.

“Pengunjung alhamdulillah sudah ada dari luar, seperti Bandung, dan sebagainya tapi belum banyak,” ujar pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro, Ilyas atau lebih dikenal Welly.

Pedagang yang juga anggota dari persatuan pelukis, perajin, dan PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni) ini mengatakan jika saat masa awal Covid-19 dagangannya tidak terjual sama sekali dalam sehari, maka hari-hari belakangan sudah ada 1-2 barang yang terjual.

Pemerintah Kota Yogyakarta berencana melakukan pembatasan pengunjung di Malioboro dari yang biasanya 5.000-10.000 pengunjung menjadi hanya 2.500 pengunjung saja untuk mencegah penularan Covid-19 di kawasan Malioboro.

Menanggapi hal ini, Welly mengaku tak setuju dengan rencana pembatasan tersebut.

Malioboro Terbagi Menjadi 5 Zona dan Dibatasi untuk 2.500 Pengunjung Saja

“Tak perlu pembatasan, tapi yang penting pengawasan. Apabila dibatasi nanti orang semakin malas datang. Sekarang saja masalah parkir yang tidak ada, orang (yang datang) sudah terbatas. Malioboro ini kan ikon kita Yogyakarta, nanti semakin lama bangkitnya,” ungkap Welly.

Dia mengungkapkan, petugas keamanan Malioboro atau Jogoboro yang ada saat ini sudah cukup untuk mengingatkan para pengunjung yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

“Apalagi ada petugas dari gugus tugas sudah cukup. Tapi kalau dibatasi orang yang masuk, bencana bagi kita. Soalnya di Malioboro kan sekarang belum optimal dibuka, toko saja baru 1-2 yang buka,” tutur Welly.

Welly mengaku dirinya pernah mengimbau untuk semua toko dan PKL supaya dibuka dengan tujuan mengundang orang datang ke Malioboro.

Kisah Ibu Hamil Ditolak Bersalin Tak Mampu Bayar Biaya Swab Test, Bayinya Meninggal di Kandungan

Selain itu, lanjut dia, di kawasan Malioboro saat ini sudah ada petugas yang mengingatkan dengan pengeras suara.

“Tidak dibatasi (jumlah pengunjung), tapi yang penting diingatkan setiap saat. Walaupun ramai orang jangan lupakan perintah protokol kesehatan,” tandasnya.

“Setiap ada yang berkerumun baik pengunjung atau kami pedagang ada petugas yang mengingatkan. Semakin cepat orang datang ke Malioboro, semakin cepat bangkitnya ekonomi Jogja,” sambung Welly. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Maruti Asmaul Husna
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved