Bisnis
Ekspor Industri Pengolahan Alami Surplus pada Periode Januari-April 2020
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendata kinerja ekspor dari industri pengolahan masih mencatatkan nilai positif meskipun di tengah tekanan pand
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendata kinerja ekspor dari industri pengolahan masih mencatatkan nilai positif meskipun di tengah tekanan pandemi Covid-19.
Sepanjang Januari-April 2020, pengapalan produk industri pengolahan mampu menembus hingga USD42,75 miliar atau naik sebesar 7,14 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, Janu Surya mengatakan, neraca perdagangan untuk industri pengolahan pada periode Januari-April 2020 adalah surplus sebesar USD777,34 juta.
• Ekspor Naik 10 Persen, Industri Manufaktur Masih Bertahan Hadapi Pandemi Covid-19
"Nilai ekspor industri pengolahan pada bulan April 2020 tercatat mencapai USD9,76 miliar. Apabila dilihat dari volumenya, ekspor produk industri pengolahan pada bulan keempat tahun ini sebesar 8,49 juta ton atau naik sebesar 2,66 persen dibanding Maret 2020," jelas Janu melalui keterangan resmi yang diterima TRIBUNJOGJA.COM, pada Jumat (29/05/2020).
Adapun sektor industri makanan menjadi penyumbang devisa terbesar dari ekspor industri pengolahan pada bulan April 2020, dengan menyentuh nilai USD2,35 miliar.
Menurut Janu, jika dilihat dari faktor pembentuknya, nilai ekspor sektor industri makanan pada bulan April 2020 didominasi oleh komoditas minyak kelapa sawit sebesar USD1,30 miliar atau memberi kontribusi sebesar 55,28 persen.
Sumbangsih lainnya, diikuti oleh sektor industri logam dasar sebesar USD2 miliar, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia USD1,06 miliar, serta industri kertas dan barang dari kertas USD564 juta.
Berikutnya, nilai ekspor industri karet, barang dari karet, dan plastik menembus USD501 juta, kemudian industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki USD463 juta, industri komputer, barang elektronik, dan optik USD417 juta, serta industri pakaian jadi USD397 juta.
• Kementerian Perindustrian Jaga Pasar Ekspor IKM Funitur dan Kerajinan
Pada bulan April 2020, China masih menjadi negara tujuan ekspor utama industri pengolahan dari Indonesia, diikuti oleh Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.
Apabila dilihat dari pertumbuhan secara tahunan (y-o-y), ekspor ke Singapura naik hingga 25,09 persen, China menanjak sebesar 16,25 persen, dan Korea Selatan melonjak sekitar 5,59 persen.
Sementara itu, industri tekstil, kulit, dan alas kaki masih menunggu pelonggaran kebijakan lockdown di sejumlah negara tujuan ekspor untuk menggenjot pengapalan alat pelindung diri (APD) dari Indonesia.
Kemenperin mendata, saat ini industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional memiliki kapasitas produksi APD hingga 54 juta unit per bulan. Adapun, kebutuhan di dalam negeri hanya sekitar 10 juta unit per bulan.
• Disperindag DIY Prediksi Terjadi Penurunan Nilai Ekspor pada Triwulan Kedua.
Kemenperin telah menyiapkan penyangga atau kebutuhan cadangan sekitar 5 juta—8 juta unit hingga akhir tahun ini. Saat ini, produksi APD nasional kondisinya surplus hingga 40 juta unit APD per bulan.
Produksi APD bisa menjadi titik cerah bagi industri TPT untuk meningkatkan kinerjanya melalui capaian ekspor pada masa pandemi saat ini.
Beberapa negara tujuan ekspor yang bersedia menyerap APD dari Indonesia, antara lain Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Nantinya, industri yang akan mengekspor APD tersebut adalah pabrikan skala besar hingga sektor industri kecil menengah (IKM).(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/nilai-ekspor-industri-pengolahan-alami-surplus-pada-periode-januari-april-2020.jpg)