Kisah Manusia Silver Bertahan Hidup di Yogyakarta, Bermula dari Pandemi yang Bikin Dagangan Sepi

MANUSIA silver adalah istilah yang sering diberikan kepada orang-orang yang melumuri tubuhnya dengan cat berwarna silver.

TRIBUNJOGJA.COM | Maruti A. Husna
Sriono, pedagang kupat tahu keliling yang beralih pekerjaan menjadi manusia silver untuk mencari nafkah selama pandemi. 

“Lalu, saya sempat nganggur, makan dikasih anak. Tapi kan saya pekewuh (tidak enak hati) karena sudah mantu, anak saya sudah berkeluarga,” sambungnya.

Sriono mengungkapkan, baru berhenti berjualan kupat tahu saat mulai bulan puasa. Setelah itu, dirinya sempat menganggur sekitar satu pekan.

Tak nyaman dengan keadaan itu, dia kemudian mengikuti ajakan anak dan teman anaknya yang sudah lebih dahulu mencari nafkah dengan menjadi manusia silver.

“Awalnya saya ragu, mental nggak kuat. Ikut tiga hari saya belum berani (menjadi manusia silver). Tapi setelah itu sudah biasa, mau bagaimana lagi. Kalau nggak begini saya nggak bisa makan,” papar Sriono.

Pria yang tinggal di daerah Kasihan, Bantul ini mengaku, ini adalah pengalaman pertamanya menjadi manusia silver seumur hidup.

“Seumur-umur ya baru ini. Idenya dari teman anak saya. Sampai sekarang ya sedikit-sedikit buat menyambung hidup dulu lah,” imbuhnya.

Sriono menjelaskan, untuk menjadi manusia silver, setiap hari dia membutuhkan modal Rp50 ribu. Uang tersebut dibelikan cat, minyak goreng, sabun cuci piring, dan sampo.

Sementara, uang yang dia dapatkan dari orang-orang di jalan setiap harinya mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

Sriono, pedagang kupat tahu keliling yang beralih pekerjaan menjadi manusia silver untuk mencari nafkah selama pandemi.
Sriono, pedagang kupat tahu keliling yang beralih pekerjaan menjadi manusia silver untuk mencari nafkah selama pandemi. (TRIBUNJOGJA.COM | Maruti A. Husna)

“Ini kadang-kadang dapat uang Rp100 ribu, kadang Rp150 ribu. Tapi modalnya setiap hari Rp50 ribu. Untuk cat, sabun cuci piring, sampo, dan minyak goreng,” urainya.

Ditanya apakah sulit ketika memasang dan membersihkan cat di tubuhnya, Sriono mengaku tidak mengalami kesulitan.

Halaman
123
Penulis: Maruti Asmaul Husna
Editor: Iwan Al Khasni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved