Sains

Virus Corona Contoh Proses Evolusi dalam Sejarah Hidup Manusia dan Lingkungannya

Penyakit yang disebabkan virus Corona, atau popular disebut Covid-19, menurutnya contoh terbaik bagaimana evolusi dalam kehidupan manusia itu terjadi.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Iwan Al Khasni
via theconversation
Ilustrasi 

Perubahan diet manusia dari berkecenderungan diet nabati (folivora dan frugifora) ke makin meningkatnya diet hewani, dari herbivora ke makin pemakan daging, yakni kecenderungan omnivora makin carnivore, disinyalir memicu meningkatnya kapasitas/ volume otak dan kecerdasan.

Kecerdasan manusia yang diwarisi dari para leluhur saat ini harus ditebus dengan makin meningkatnya risiko penyakit cardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah).

“Kita mewarisi pola diet leluhur kita yangg tak bisa menjauhi daging,” paparnya. Seperti risiko penyakit cardiovaskuler, menurut Rusyad, manusia modern juga menerima warisan patologi vertebra dan coxae/pelvis (punggung dan panggul).

Indikasi paling umum adalah encok. Risiko ini diterima manusia modern karena tubuhnya makin bipedal. Hewan menurutnya tidak mengalami ini, karena beban tubuhnya terbagi merata secara horisontal yang ditopang empat ekstremitasnya (awam menyebut berkaki empat).

Manusia yangg bipedal membebankan bobot tubuhnya pada coxae/pelvis (panggul) dan dua ekstremitasnya pada sumbuh tengah tubuh. Memusatnya beban itu disebut Rusyad biang dari kumatnya encok.

“Makin tua makin encoken. Aduh dik, encokku kumat!" kata Rusyad menirukan iklan radio yang dulu begitu populer. Efek lain adalah terkait proses kehamilan dan persalinan bagi perempuan.

Coxae/pelvis manusia (perempuan) makin membundar, pendek dan melebar. Kondisi ini berakibat pada persalinan yg makin prematur. Bayi-bayi manusia kini menurut Rusyad lahir lebih cepat daripada bayi-bayi leluhurnya.

“Sekitar usia kehamilan 9 bulan sudah pingin keluar dari rumah awalnya. Tak kerasan berlama-lama dalam rahim. Karena lahir lebih cepat, jadi bersifat premature, maka bayi-bayi manusia sangat rentan,” katanya.

Kondisi ini memerlukan perawatan dan pengasuhan sangat panjang. Di sini panjangnya pengasuhan karena kondisi prematur itu, otak masih perlu pertumbuhan dan perkembangan, menguntungkan dalam proses pembelajaran (internalisasi, enkulturasi, sosialisasi) lebih jauh. Singkatnya manusia menjadi makin cerdas.

Jadi menurutnya, penyakit itu produk ketidakseimbangan lingkungan, yakni lingkungan di badan dan luar. Oleh karena itu, filosofi sederhana paramedis (dokter, dokter gigi) adalah membantu untuk menyeimbangkan lingkungan itu. Jika seimbang lagi lingkungannya, maka di sana ada kesembuhan.

Otak kita yg makin membesar, volume otak manusia modern saat ini sekitar 2.200 cc. Konsekuensinya, selubung atau pembungkusnya, yaitu tengkorak makin menipis.

otak
otak (qbi.uq.edu.au)

Gambarannya jika ruang itu terisi sedikit, maka dindingnya masih tebal; namun jika ruangan itu makin terisi sampai mendesak begitu, maka dindingnya makin menipis.

“Itulah kondisi otak dan tengkorak kita. Simpanse dan orang utan berkapasitas otak sekitar 450 cc. Homo erectus berkapasitas otak, termuda ke tertua aktikuitasnya, sekitar 1.000 – 1.500 cc,” katanya.

Di sini kepala atau tengkorak manusia modern rawan cedera. Apalagi jika cedera itu sampai mengenai otaknya.

Ibaratnya jika simpanse atau orang utan kejatuhan kelapa pada kepalanya, mungkin mereka hanya geleng-geleng kepala. Jika Homo erectus kejatuhan kelapa pada kepalanya, mungkin hanya benjut saja.

Nah, jika kita yang kejatuhan kelapa pada kepala kita, mungkin langsung klenger dengan sedikit sadar membayangkan ada bintang-bintang berkeliling, lalu pingsan,” kata Rusyad.(Tribunjogja.com/xna)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved