Lifestyle

Mengatur Keuangan Ramadan di Tengah Wabah Corona

Pengurus Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DIY sekaligus konsultan perencanaan keuangan, Himawan Adhi menjelaskan, dalam menghadapi situ

Tayang:
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Ari Nugroho
Istimewa
Pengurus Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DIY sekaligus konsultan perencanaan keuangan, Himawan Adhi 

Laporan Reporter Tribun Jogja,Nanda Sagita Ginting.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wabah Corona berimbas pada sektor perekonomian.

Tentunya, wabah Corona pun berdampak pada keuangan masyarakat saat Ramadan.

Hal ini membuat semua pihak harus bisa bertahan di tengah kesulitan ini.

Pengurus Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) DIY sekaligus konsultan perencanaan keuangan, Himawan Adhi menjelaskan, dalam menghadapi situasi seperti ini diperlukan tindakan preventif agar kondisi keuangan masih stabil.

"Bagi setiap orang harus memiliki tindakan preventif dalam kondisi keuangan. Adapun satu diantaranya dengan mempersiapkan emergency fund (dana segera)," jelasnya kepada TRIBUNJOGJA.COM, pada senin (11/05/2020).

THR Wajib Dibayarkan Paling Lambat H-7 Lebaran, Ini Sanksi Bagi Pengusaha yang Tdak Membayarkan

Saat Ramadan di tengah wabah Corona membuat pemasukan semakin kecil namun pengeluaran tetap sama bahkan bisa lebih besar.

Maka beberapa tips yang diberikan Himawan Adhi untuk mengatur keuangan saat Ramadan :

1.Membuat list (daftar) pengeluaran

Himawan menjelaskan, dengan adanya list pengeluaran dapat mempermudah pengaturan keuangan. Sehingga dapat memberikan gambaran yang menjadi skala prioritas keuangan.

Dia pun menambahkan ada tiga jenis pengeluaran, pertama, pengeluaran tetap berupa sesuatu yang rutin dibayarkan setiap saatnya seperti listrik.

Kedua, pengeluaran variabel seperti untuk kebutuhan hiburan misalnya pesta afau hal lainnya.

Dan ketiga, pengeluaran tak terduga yang hampir sama dengan variabel namun jumlahnya lebih besar dan tidak tau kapan akan terjadi, contohnya kerusakan pada mobil.

"Dengan adanya list pengeluaran membuat kita mengetahui hal apa yang menjadi prioritas di saat seperti ini. Sehingga pengeluaran keuangan menjadi lebih teratur," jelas Hinawan.

2. Menghemat pengeluaran

Himawan mengatakan, saat pandemi membuat kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Tentu hal ini membuat beberapa keperluan atau pengeluaran menjadi berkurang seperti anggaran Bahan Bakar Minyak (BBM), liburan ataupun biaya penginapan di hotel.

" Biasanya sebelum ada pandemi lebih banyak mengabiskan aktivitas di luar rumah. Namun, sekarang kebalikannya aktivitas di rumah lebih banyak. Tentunya pengeluaran seperti BBM bisa dihemat untuk kepeuan Ramadan," ujar Himawan.

Industri Jasa Keuangan Tetap Beroperasi Saat PSBB Berlangsung

"Tak hanya itu, penghematan juga bisa dilakukan seperti uang cuci motor. Misalnya dalam seminggu bisa satu kali seharga Rp10 ribu setiap kali cuci. Saat Corona motor bisa dicuci sendiri. Hitungannya jika dalam sebulan bisa mencuci motor sebanyak 4 kali berarti Anda bisa menghemat Rp 40 ribu tiap bulannya yang bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih penting," tambah Himawan.

3. Mencari sumber pendapatan baru

Menurut Himawan, dengan kondisi seperti bisa dimanfaatkan untuk mencari sumber penghasilan baru. Misalnya dengan cara berjualan makanan berbuka puasa atau kue kering lebaran.

"Saat ini kita dipaksa untuk bisa bertahan (survive) dalam menghadapi kondisi sulit. Kita harus bisa menciptakan peluang yang menghasilan keuntungan yang menjadi sumber penghasilan baru kita," ujar Himawan.

4.Perlunya emergency fund atau dana segera

Setiap orang yang sudah memiliki penghasilan diharuskan memiliki dana segera untuk mengantisipasi terjadinya krisis keuangan.

Menurut Himawan, dana segera berbeda dengan tabungan. emergency fund atau dana segera harus bersifat liquid ( mudah dicairkan) dalam kondisi apapun berbentuk.

Prinsipnya dana ini dipakai untuk hal yang mendesak dan bersifat cepat atau segera. Seperti dalam kondisi saat ini, apabila memiliki emergency fund kemungkinan imbas dari pandemi yang dirasakan tidak terlalu besar (karena sudah ada tindakan pencegahan sebelumnya).

Himawan pun menjelaskan cara menghitung emergency fund saat terjadinya krisis keuangan.

"Secara formula menggunakan pendekatan pengeluaran. Di mana dihitung dari lamanya penggunaan emergency fund, adapun deret angkanya dimulai dari 3,6,9,12 (bulan),"terangnya.

Maksudnya, apabila Anda memiliki pengeluaran sebesar Rp 5 juta per bulan maka untuk emergency fund selama tiga bulan. Anda harus menyiapkan dana sebesar Rp15 juta untuk saving money agar keuangan Anda tetap aman.

Lalu, dengan pengeluaran yang sama tiap bulannya. Ketika Anda ingin menyimpan emergency fund selama enam bulan artinya anda harus menyiapkan dana sebesar Rp30 juta, begitupun seterusnya. Lebih lama anda persiapkan emergency fund akan lebih baik untuk kestabilan keuangan.

Paguyuban Keuangan Desa Kabupaten Bantul Bantu Sembako untuk Warga di Karantina

Himawan pun menambahkan, emergency fund atau dana segera dapat disiapkan melalui sumber pendapatan ataupun aset investasi.

Misalnya, memiliki investasi tanah sekitar 1000 hektar. Tanah merupakan investasi jangka panjang yang tidak bisa diuangkan secara cepat di situasi yang mendesak. Kalaupun bisa harga jualnya pasti lebih rendah.

Alangkah baiknya sebagian dari tanah dijual (bukan dalam kondisi mendesak), kemudian uangnya disimpan dan dijadikan sebagai emergency fund, dan dikeluarkan disaat yang genting.

"Dalam kondisi apapun emergency fund perlu dipersiapkan. Bukan hanya karena pandemi Corona namun dalam kondisi normal harus memiliki dana tersebut. Karena kita tidak mengetahui kondisi atau keadaan kedepannya terkait keuangan. Maka lebih baik, kita sudah bersiap diri sehingga tidak kaget apabila hal itu terjadi," pungkas Himawan. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved