PSIM Yogyakarta

Menelusuri Jejak Karier Siswadi Gancis, Legenda PSIM Yogyakarta

Nama Siswadi Gancis dikenal para partisan PSIM Yogyakarta sebagai seorang legenda.

Tayang:
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
Dokumen Siswadi Gancis
Siswadi Gancis 

TRIBUNJOGJA.COM - Nama Siswadi Gancis dikenal para partisan PSIM Yogyakarta sebagai seorang legenda.

Gancis menjadi bagian tak terpisahkan dalam pasang surut prestasi klub berjuluk Laskar Mataram medio 1980-1990an, satu yang paling ia kenang ialah saat PSIM Yogyakarta rela tak jadi promosi ke Divisi Utama, 1985 silam.

Gancis menceritakan, PSIM Yogyakarta yang kala itu dihuni materi lokal seperti Melius Mau dan Susilo Harso pada musim tersebut seharusnya berhak mendapat satu tiket ke kompetisi kasta tertinggi Tanah Air lantaran finish sebagai runner up Divisi I 1985.

Namun kala itu secara tiba-tiba PSSI mengubah regulasi dengan menggelar semacam babak play off promosi-degradasi, seolah demi "menyelamatkan" Persija Jakarta yang saat itu finish di zona degradasi Divisi Utama.

Jejak Karier Ony Kurniawan, One Man One Club Bersama PSIM Yogyakarta

"Saya mulai di PSIM saat posisi masih di kompetisi Divisi III. Kemudian merangkak ke Divisi II dan Divisi I, sampai akhirnya ke Divisi Utama di musim 1985 itu, seharusnya," ujar kiper yang pernah membela timnas PSSI Garuda I medio 1980-an ini kepada Tribunjogja.com, Selasa (28/4/2020). 

"Namun format kompetisi diubah, lalu digelarlah pertandingan promosi-degradasi di Cirebon. Padahal kita seharusnya otomatis promosi ke Divisi Utama, di sisi lain Persija Jakarta saat itu seharusnya degradasi dari Divisi Utama," lanjutnya.

"Babak promosi-degradasi di Cirebon menghadapi beberapa tim termasuk Persija Jakarta. Ya saat itu sudah 'permainan' sih, dan kita akhirnya dikalahkan," imbuhnya pria kelahiran Kudus, 8 Juni 1963 ini.

Meski begitu, menurut Gancis saat itu menjadi masa kejayaan pembinaan sepak bola lokal DIY yang memiliki iklim kompetisi greget sekaligus melahirkan nama-nama yang melegenda seperti Maryono, Triyono, Melius Mau, Susilo Harso, Saiful Bahri, Sugito, Nyoman Arba Wibawa, dan Edi Prapto.

Imbas Corona, Home Base PSIM Yogyakarta Ditutup untuk Sementara

Jadi bukti kesuksesan pembinaan pemain lokal yang mampu berbicara di kancah nasional kala itu.

Prestasi yang juga pernah Gancis torehkan ialah mengantar Laskar Mataram lolos ke Divisi Utama musim 1993/1994, di bawah asuhan juru taktik legendaris Bertje Matulapelwa.

Sekadar informasi, mendiang Bertje Matulapelwa merupakan arsitek timnas peraih emas SEA Games 1987 serta mengantar Indonesia masuk empat besar Asian Games 1986.

"Ya, saya mengalami Bertje sebagai pelatih juga," ujar Gancis.

"Di antara pemain PSIM Yogyakarta, mungkin saya ya yang paling lama. Karena saya masuk ketika masih junior, dan ketika memutuskan gantung sarung tangan saat saya menjadi pemain yang paling senior. Jadi saya mengalami beberapa era, dari jamannya Pak Maryono, sampai yang terakhir eranya Widadi Karyadi, itu juga saya sempat mengami satu tim. Di sepak bola itu kan kiper yang paling awet ya," imbuh putra kedua legenda kiper Persijap Jepara, Paelan ini.

Saking lamanya membela panji Laskar Mataram, Gancis sampai lupa kapan pastinya ia pertama kali bergabung.

Kiat Bisnis Eks Pemain PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman Survive di Tengah Pandemi Covid-19

"Saya bergabung kurang tahu hitungan persisnya, tapi saya mulai dari junior, remaja taruna saat itu. Sampai terakhir ketika PSIM Yogyakarta mengikuti Liga Dunhill atau Divisi Utama Liga Indonesia 1995/1996," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved