Stupa Dawangsari
Menelisik Apa Fungsi dan Manfaat Stupa Dalam Kultur dan Religi Budha
Apakah Stupa Dawangsari merupakan tempat penanaman abu jenazah, seperti fungsi aslinya di masa India kuno?
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Iwan Al Khasni
Tidak ada bukti-bukti kuat lokasi-lokasi itu menjadi tempat penanaman abu jenazah. Candi Kalasan sesuai prasastinya, merupakan bangunan pemujaan Dewi Tara.
Begitu juga Candi Sewu. Meski menurut NJ Krom ada indikasi temuan perigi, tempat yang biasanya untuk menanam abu jenazah, tapi prasasti yang ditemukan menyebut berbeda.
Candi Sewu bercorak Budha, merupakan Manjusrigrha, sebuah komplek bangunan suci untuk pemujaan.
Soekmono juga menentang pendapat De Casparis yang menyimpulkan Candi Pawon tang bercorak Budha, sebagai tempat pemakaman Raja Indra.
Berdasarkan hasil studinya, secara tegas Soekmono membantah semua pendapat yang menyimpulkan candi di Jawad an Nusantara adalah bangunan pemakaman.
Tidak hanya candi-candi Budha, yang berciri Siwais atau Hindhu pun sama. Keberadaan kotak atau cupu peripih ada di semua candi.
Berdasarkan referensi buku Borobudurpedia (Balkon Borobudur 2017), stupa merupakan lambang agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik.
Stupa pada Candi Borobudur juga sering disebut berbentuk genta atau lonceng. Bentuk serupa ada pada Stupa Dawangsari, Candi Plaosan, Stupa Sumberwatu, dan beberapa candi lain.
Stupa Candi Borobudur terdiri stupa induk, stupa teras dan stupa-stupa kecil sebagai ornamen tubuh candi atau pagar langkan.
Stupa induk adalah stupa utama/stupa puncak yang paling besar di antara supa teras lainnya. Stupa induk tidak berlubang dan mempunyai garis tengah 9,90 meter dan tinggi 7 meter.
Di dalam stupa induk ini terdapat rongga yang ketika ditemukan dalam keadaan kosong (Alvarez, 2003). Hal ini menjadi perdebatan di kalangan para ahli.
Ada yang berpendapat rongga tersebut dahulunya merupakan ruangan untuk tempat menyimpan arca atau relik (peninggalan-peninggalan yang dianggap suci; benda-benda, pakaian, tulang belulang Sang Buddha, arhat dari bhiksu terkemuka).
Sebagian lagi berpendapat rongga dalam stupa ini memang kosong, mengingat stupa pada tingkat arupadhatu menyimbolkan unsur tak berwujud.
Pada puncak stupa, biasanya terdapat chattra yang merupakan payung bersusun tiga. Secara filosofi keagamaan memang ada bentuk seperti ini,misalnya di Bodh Gaya.
Dalam kajian Balai Konservasi Borobudur baru-baru ini dinyatakan persentase batu asli di rekonstruksi chattra oleh Theodore van Erp adalah 42 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sudut-tenggara-bagian-kaki-bangunan-kuno-stupa-dawangsari.jpg)