Lifestyle
Dancing In The Dark : Antara Budaya dan Pandemi
Kyre begitu akrab disapa, perupa muda yang lama berproses di Yogyakarta akhirnya sukses mengembalikan spirit berkaryanya dengan melahirkan lukisan ber
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ari Nugroho
Maklum, ia biasa mondar mandir ke luar rumah untuk berinteraksi dan mencari inspirasi.
Alhasil, ia harus banyak membunuh waktu di rumah. Melukis menjadi salah satu caranya.
Hanya saja ia merasa sulit memunculkan ide segar ke dalam kanvasnya.
Ia pun mulai rajin melihat aktivitas teman temannya di media sosial.
Ia menemukan beberapa fenomena yang awalnya ia anggap menarik.
Namun, kemudian ia anggap sebuah ironi.
Bagi Kyre, banyak yang membunuh waktu dengan bermedia sosial.
Salah satunya aktif melalui aplikasi tik tok.
Banyak yang mengekspresikan kegundahannya selama di rumah saja dengan menari.
Ini menjadi seperti menari di atas penderitaan, tapi mau bagaimana lagi itu yang bisa dilakukan saat ini untuk menghibur diri.
"Ini mirip budaya Karo yang pernah aku lakukan, aku harus menari ketika melepas jenazah ayah ku. Jadi kita diminta seperti ikhlas melepaskan dengan tetap bergembira. Aku sendiri sempat bertanya, di satu sisi aku diminta melepaskan meski dalam hati seperti bertanya pada Tuhan, berekspresi melalui gerakan tarian itu mengapa ini terjadi, tapi lagi lagi diminta untuk ikhlas melepaskan. Inilah yang aku hadirkan dalam Dancing In The Dark," ungkap Kyre.
Sementara itu, bagian lukisan yang menampilkan virus Corona, masker wajah dan sepatu Nike Air Jordan dalam Dancing In The Dark adalah upaya Kyre memyimbolkan bahwa pandemi Corona terjadi di zaman ini.
Cerita selengkapnya tentang Oky Rey Montha dan karyanya dapat disimak di Harian Tribun Jogja Edisi Minggu (26/4/2020).
(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kyre-saat-memberi-sentuhan-sentuhan-tambahan-pada-lukisannya-berjudul-dancing-in-the-dark.jpg)