Wabah Virus Corona
Penjelasan Ilmuwan China soal Temuan Mutasi Langka Virus Corona SARS-CoV-2
Mereka memperingatkan kemampuan virus bermutasi yang kemungkinan akan memberi efek berbeda terhadap penyakit COVID-19.
Bahkan, feses pasien tersebut sangat menular dengan strain virus yang hidup.
"Menyelidiki dampak fungsional dari mutasi tri-nukleotida ini akan sangat menarik," kata Prof Li. Adapun gen Virus Corona yang bermutasi saat ini berbeda dari strain paling awal yang diisolasi di Wuhan, tempat virus ini pertama kali terdeteksi.
Peneliti mengungkapkan pada umumnya,Virus Coronaberubah dengan kecepatan rata-rata satu mutasi per bulan.
Namun, pada hari Senin, dilaporkan lebih dari 10.000 strain telah diurutkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia.
• Profesor di Sumatera Selatan Klaim Temukan Antivirus Corona, Berupa Produk Gula
Menurut China National Centre for Bioinformation, dari strain virus corona tersebut mengandung 4.300 mutasi.
Profesor Zhang Xuegong, kepala divisi bioinformatika di National Laboratory for Information Science and Technology, Tsinghua University mengapresiasi metode pengurutan sekuensing ultra-deep.
Metode ini digunakan Prof Li untuk melacak mutasi virus, yakni pada mutasi Virus Corona, SARS-CoV-2.
"Metode ini adalah strategi efektif untuk melacak mutasi virus dan dapat menghasilkan beberapa informasi bermanfaat," kata Prof Zhang.
Kendati demikian, melacak mutasi virus dengan pendekatan ini bisa jadi akan memakan waktu lebih lama dan harus mengeluarkan lebih banyak biaya.
Selain itu, metode tersebut juga tidak bisa diterapkan pada semua sampel strain virus corona.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ilmuwan Temukan Mutasi Langka Virus Corona SARS-CoV-2, Ini Penjelasannya"