Berkesenian Melalui Kreasi Teknik Sulam

Belum lama ini sebuah pameran bertajuk Di Sulam Semene Wae digelar melibatkan belasan pegiat sulam dengan puluhan karya.

Tayang:
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Muhammad Fatoni
dok.istimewa
Beragam hasil sulaman komunitas Seven Needles 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menyulam menjadi salah satu kegiatan yang menghasilkan kerajinan tangan bernilai seni.

Para pegiat sulam di Yogyakarta terus melakukan literasi menyulam dengan mengadakan beragam event dan pameran karya menyulam.

Menurut Kristi, seorang pegiat sulam yang juga aktif di komunitas menyulam Seven Needles, digelarnya pameran rutin dan berbagai workshop menyulam bertujuan mengenalkan sulam pada generasi kekinian.

Belum lama ini sebuah pameran bertajuk Di Sulam Semene Wae digelar melibatkan belasan pegiat sulam dengan puluhan karya.

Sedianya, di awal bulan April kemarin pameran ke 13 dari komunitas Seven Needles ini digelar.

Sayangnya pandemi virus corona membuat pameran itu untuk sementara ditangguhkan.

"Pameran yang sudah kami siapkan berjudul Menitik Masa Lalu Meniti Masa Depan. Di pameran ini nantinya bukan hanya karya sulam namun juga cross stitch karya dua anggota kami di Seven Needles," kata Kristi.

Kristi dan komunitas Seven Needles berharap menyulam menjadi sebuah kegiatan seni yang bisa diterima dan diminati kaum muda di era milenial saat ini.

Menurut Krisiti, kurang lebih satu dekade lalu, menyulam masih diidentikkan sebagai kegiatan mereka yang sudah berusia senja.

"Kami memang perlahan ingin menggeser stigam menyulam yang identik dengan Oma Oma yang hanya menghabiskan waktu daripada bengong menjadi aktivitas berkesenian yang bisa menghasilkan karya bernilai seni tinggi," ungka Kristi.

Sebagai upaya memasyarakatkan menyulam, komunitas Seven Needles menggelar pertemuan rutin sekali dalam sebulan.

Pada setiap pertemuan tersebut, tak hanya dihabiskan dengan menyulam sepenuhnya namun juga bertukar pikiran dan ide karya.

Kristi menjelaskan, di seluruh dunia, menyulam hampir di kenal di setiap negara. Teknik tusuk sulamanpun berkembang.

Tak kurang dari 400 jenis tusuk sulam digunakan dalam menyulam. Hanya saja di Indonesia sendiri hanya sekitar 20 jenis tusukan yang lazim digunakan.

"Kemampuan setiap penyulam berbeda beda. Ada yang dengan melihat video tutorial saja sudah bisa mengikuti, tapi ada juga yang ikut workshop dulu baru bisa menyulam dan menggunakan beragam jenis tusukan," imbuh Kristi.

Sebelas Tahun Konsisten Menyulam

Komunitas Seven Needles ini salah satu wadah bagi para penggemar menyulam yang resmi didirikan pada tahun 2009 silam bertepatan dengan digelary pameran perdana yang menampilkan karya para anggotanya.

Sejak saat itu, pameran demi pameran digelar rutin setiap tahun sekali.

Pada pameran ke 12 bertajuk Di Sulam Semene Wae yang digelar belum lama ini di UNY, menampilkan sekitar 20 karya.

Sesuai dengan judul pameran yang bisa dimaknai sebagai menyulam seselesainya atau bisa juga dimaknai menyulam pada motif batik semen yang diaplikasikan pada selembar selendang.

"Jadi karya dalam pameran bertajuk Di Sulam Semene Wae itu ada beberapa sulaman yang memang tak selesai, sak tekane, salah satunya karya saya juga ngga selesai. Ini diambil dari kata semene wae, segini aja," kata Kristi.

Lanjut Kristi, semene Wae dalam bahasa Jawa berarti sekian saja atau segini saja yang menyatakan ukuran cukupan secara general.

Beranjak dari ide tersebut, karya dalam pameran ini ingi mengekspresikan seni yang juga dipresentasikan dalam konteks zaman dan waktu.

Alhasil, muncul apresiasi dari masing masing penyulam dalam bentuk sulam, sesuai keahlian, yang polanya diinspirasi dari pola klasik batik khususnya pola golongan semen.

"Pameran Di Sulam Semene Wae ini adalah lintas disiplin ilmu dan teknologi. Bisa dilihat dalam proses membatik, celup maupun sulam tangan, ketiga unsur dalam ranah seni ini berkolaborasi menjadi satu karya baru yang indah," terang Kristi. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved