Yogyakarta

Pedagang Sandang Pasar Beringharjo Kembali Beroperasi

Sekitar 273 penyewa kios sandang di Pasar Beringharjo lantai 2 dan 3 kembali beroperasi pada Rabu (15/4/2020). Sebelumnya, para pedagang tersebut menu

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Maruti A. Husna
Remon, Ketua Paguyuban Beringharjo Center Lantai 2 dan 3 (kiri) di tengah pasar sandang Beringharjo lantai 2 yang hampir tidak ada pembeli. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sekitar 273 penyewa kios sandang di Pasar Beringharjo lantai 2 dan 3 kembali beroperasi pada Rabu (15/4/2020).

Sebelumnya, para pedagang tersebut menutup kios selama 14 hari.

Kepala UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo, Sri Riswanti mengatakan sebelumnya para pedagang tersebut menutup toko atas inisiatif kolektif mereka sendiri.

"Kami mengapresiasi kesadaran kolektif para pedagang yang menutup toko sebelumnya. Walaupun kami dari pemerintah tidak pernah mengatakan pasar tutup," ujar Sri, Rabu (15/4/2020).

Hampir Sebulan Tanpa Aktifitas Akibat Virus Corona, Pasar Beringharjo Yogyakarta Kembali Pulih

Dia menjelaskan, sejak Covid-19 mewabah di DIY secara operasional Pasar Beringharjo praktis sepi pengunjung.

Bahkan, pedagang sering menjumpai tidak ada pengunjung sama sekali dalam sehari.

"Kami dari pemerintah tidak mengatakan tutup. Waktu mereka izin ingin tutup juga memberi tahu. Tadi malam (Selasa, 14/4/2020) mereka juga memberi tahu lagi bahwa hari ini (Rabu, 15/4/2020) akan buka," tutur Sri.

Sebelumnya, para pedagang yang terdiri atas pedagang pakaian, sepatu, batik, dan kaos itu menutup toko sejak Kamis, 2 April 2020.

"Kami menekankan pada pedagang bukan untuk tutup. Tetapi, melakukan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), mencuci tangan, menggunakan masker, serta menjaga jarak ketika bertransaksi dengan pembeli," imbuhnya.

Sri menerangkan imbauan tersebut selalu disiarkan melalui radio pasar, spanduk-spanduk, serta poster yang banyak tertempel di dalam pasar.

Yogya Ramai, Sultan Minta untuk Dikontrol

"UPT pasar sendiri melakukan sterilisasi pasar sebanyak dua kali dalam sehari. Pagi dan sore. Di pintu-pintu pasar juga disediakan hand sanitizer," paparnya.

Dalam kondisi normal, Pasar Beringharjo bagian sandang buka sejak pukul 08.00 hingga 21.00 WIB.

Namun, sejak ada Covid-19 pasar tutup pukul 16.30 WIB.

Sri mengungkapkan, pada masa normal low season pengunjung Pasar Beringharjo lantai 2 dan 3 bisa mencapai 4.000 orang.

Sementara, pada high season seperti Sabtu-Minggu dan libur panjang bisa mencapai 10.000-15.000 pengunjung.

"Begitu ada Covid akhir pekan ini hanya 300 pengunjung, hari biasa nggak ada pengunjung sama sekali," bebernya.

Sri pun mengungkapkan rasa prihatinnya pada para pedagang, sebab sudah dua pekan lebih mereka tidak mendapat pemasukan.

Terlebih, beberapa pedagang sudah ada yang membeli komoditi sejak sebelum wabah Covid-19 untuk dijual saat lebaran.

"Sebagai bagian pemerintah kami mengajukan program kepedulian berupa pemotongan biaya sewa tempat para pedagang hingga 75 persen. Masih kami ajukan ke walikota, menunggu produk hukumnya," ungkap Sri.

Rabu (15/4/2020) siang Tribun Jogja memantau kondisi lantai 2 dan 3 Pasar Beringharjo dan menemukan hampir semua kios telah dibuka.

Namun, sangat jarang ditemukan pembeli, hanya ada para pedagang yang menunggui kios.

Polda DIY Bareng Pengusaha Penggilingan Padi Bagikan Beras ke Pekerja Non Formal di Pasar Senthir

Wanti, pedagang kios Box Kaos mengatakan hingga siang hari itu belum ada pengunjung sama sekali.

"Ini yang bagian belakang (pasar) sini hanya ada pedagang saja. Baru hari ini saya buka sejak tutup tanggal 5," ujarnya.

Wanti sudah empat tahun berdagang di Pasar Beringharjo.

Omzetnya pada kondisi normal mencapai Rp1,5 juta per hari.

Sejak Covid-19 turun drastis menjadi Rp200 ribu bahkan Rp0.

Ditemui di Pasar Beringharjo, Remon, Ketua Paguyuban Beringharjo Center Lantai 2 dan 3 menuturkan pihaknya sempat menutup toko karena mengikuti program pemerintah DIY yang berlaku mulai 1 April 2020.

"Kemarin kami meliburkan sampai 14 hari. Karena instruksi pemerintah (bekerja dari rumah) yang pertama sampai tanggal 14 April. Karena kami di sini swasta, kami berpikir perlu mencari nafkah untuk menghidupkan keluarga, serta menggaji karyawan. Kalau tidak jualan, dari mana kami bisa menghidupi dan menggaji mereka," ujarnya.

Remon menjelaskan ada 50 anggota paguyubannya. Mereka terdiri atas pedagang pakaian, batik, sepatu, kaos, dan lain-lain.

"Ini kami sudah buka tapi pengunjung nggak ada. Pasarnya ada, tapi pembeli nggak ada," tuturnya.

Remon pun mengeluhkan kebijakan pemerintah yang dipandang tidak jelas.

"Pemerintah nggak jelas, suruh orang di rumah tapi nggak ada bantuan. Sumber penghasilan kami satu-satunya dari pasar ini," paparnya.

Menurut Remon, pihaknya telah melakukan negosiasi dengan UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo agar meniadakan atau menurunkan uang sewa kios.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved