Yogyakarta
Pedagang Sandang Pasar Beringharjo Kembali Beroperasi
Sekitar 273 penyewa kios sandang di Pasar Beringharjo lantai 2 dan 3 kembali beroperasi pada Rabu (15/4/2020). Sebelumnya, para pedagang tersebut menu
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Ari Nugroho
Sementara, pada high season seperti Sabtu-Minggu dan libur panjang bisa mencapai 10.000-15.000 pengunjung.
"Begitu ada Covid akhir pekan ini hanya 300 pengunjung, hari biasa nggak ada pengunjung sama sekali," bebernya.
Sri pun mengungkapkan rasa prihatinnya pada para pedagang, sebab sudah dua pekan lebih mereka tidak mendapat pemasukan.
Terlebih, beberapa pedagang sudah ada yang membeli komoditi sejak sebelum wabah Covid-19 untuk dijual saat lebaran.
"Sebagai bagian pemerintah kami mengajukan program kepedulian berupa pemotongan biaya sewa tempat para pedagang hingga 75 persen. Masih kami ajukan ke walikota, menunggu produk hukumnya," ungkap Sri.
Rabu (15/4/2020) siang Tribun Jogja memantau kondisi lantai 2 dan 3 Pasar Beringharjo dan menemukan hampir semua kios telah dibuka.
Namun, sangat jarang ditemukan pembeli, hanya ada para pedagang yang menunggui kios.
• Polda DIY Bareng Pengusaha Penggilingan Padi Bagikan Beras ke Pekerja Non Formal di Pasar Senthir
Wanti, pedagang kios Box Kaos mengatakan hingga siang hari itu belum ada pengunjung sama sekali.
"Ini yang bagian belakang (pasar) sini hanya ada pedagang saja. Baru hari ini saya buka sejak tutup tanggal 5," ujarnya.
Wanti sudah empat tahun berdagang di Pasar Beringharjo.
Omzetnya pada kondisi normal mencapai Rp1,5 juta per hari.
Sejak Covid-19 turun drastis menjadi Rp200 ribu bahkan Rp0.
Ditemui di Pasar Beringharjo, Remon, Ketua Paguyuban Beringharjo Center Lantai 2 dan 3 menuturkan pihaknya sempat menutup toko karena mengikuti program pemerintah DIY yang berlaku mulai 1 April 2020.
"Kemarin kami meliburkan sampai 14 hari. Karena instruksi pemerintah (bekerja dari rumah) yang pertama sampai tanggal 14 April. Karena kami di sini swasta, kami berpikir perlu mencari nafkah untuk menghidupkan keluarga, serta menggaji karyawan. Kalau tidak jualan, dari mana kami bisa menghidupi dan menggaji mereka," ujarnya.
Remon menjelaskan ada 50 anggota paguyubannya. Mereka terdiri atas pedagang pakaian, batik, sepatu, kaos, dan lain-lain.