Internasional

Dipasok Emirat Arab, Rudal Israel Dipakai Pasukan Haftar Rontokkan Drone Turki di Libya

Kelompok Libyan Nasional Army (LNA) yang dipimpin Marsekal Khalifa Haftar, disebut menggunakan rudal buatan perusahaan Israel di tengan peperangan.

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ari Nugroho
NET
Akar konflik Libya 

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKOW – Konflik bersenjata di Libya memasuki babak baru seiring fakta yang diungkap Sputniknews.com mengutip sumber-sumber di jaziran Arab.

Kelompok Libyan Nasional Army (LNA) yang dipimpin Marsekal Khalifa Haftar, disebut menggunakan rudal buatan perusahaan Israel di tengan peperangan.

Senjata canggih itu dipasok Uni Emirat Arab (UAE) lewat Mesir. Kedua negara ini secara terbuka menyokong kelompok LNA.

Rudal darau ke udara itu terbukti akurat merontokkan pesawat-pesawat tanpa awak Turki yang dikerahkan guna membantu Government National Accord (GNA) yang dipimpin Faisal Saraj.

LNA dan GNA bersaing memperebutkan kekuasaan di Libya, sepeninggal Moammaf Khadaffi yang terbunuh 9 tahun lalu saat revolusi meletus di negara kaya minyak ini.

Pasukan Haftar Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur Seterunya di Misrata Libya

Menurut Sputniknews.com mengutip pemberitaan surat kabar New Arab, pengiriman rudal itu dilakukan secara rahasia sebagai bagian komitmen dukungan UEA kepada Haftar.

Sementara Mesir berkontribusi menyiapkan pelatihan khusus kepada pasukan Haftar.

Kini, kelompok bersenjata ini memiliki perlengkapan tempur sangat baik dan lengkap.

Sumber surat kabar itu menolak memberikan rindian karakteristik sistem pertahanan udara yang dipasok ke LNA.

Tapi menegaskan produknya canggih dan diproduksi pabrikan Israel.

Sistem senjata diangkut ke Mesir, selanjutnya dipindahkan ke Libya setelah pasukan LNA dilatih untuk mengoperasikannya di Mesir.

Industri pertahanan Israel memiliki reputasi tinggi dalam hal pembuatan beberapa sistem rudal darat ke udara.

Di antaranya yang kondang ada sistem rudal anti-balistik Arrow yang bersifat bergerak.

Ada lagi David's Sling, sistem pertahanan rudal anti-roket dan rudal jelajah, serta sistem kubah besi.

Kesepakatan pembelian senjata dari Israel oleh UEA dilakukan secara rahasia karena kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal.

Pejabat Israel, UEA, dan LNA belum mengomentari kebenaran berita New Arab dan Sputniknews, media yang dioperasikan pemerintah Rusia ini.

Pasukan Haftar Ledakkan Kapal Turki Pembawa Senjata ke Libya

Libya memiliki cadangan minyak terbesar di benua Afrika.

Tak terhitung jumlahnya peralatan militer dipasok dari seluruh dunia karena perang.

Senjata-senjata mematikan itu dikirim baik ke kubu LNA atau GNA ketika keduanya bersaing untuk menguasai negara itu.

Belum lagi yang jatuh ke kelompok-kelompok militan lain, termasuk ISIS yang juga menunjukkan eksistensinya di negara itu.

Sejak Januari 2020, Turki mengambil langkah mengirimkan pasukan dan persenjataan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mendukung GNA.

Turki menceburkan diri ke tengah konflik ketika Tripoli sebagai basis GNA, dikepung dan hendak direbut pasukan LNA.

Kedua belah pihak sejak itu terlibat dalam perang drone, pertempuran udara, dan operasi militer di darat.

Pertengahan Maret, LNA mengklaim GNA sedang membangun pangkalan baru di perbatasan dengan Tunisia.

Jika fakta ini benar, GNA kemungkinan menyiapkan opsi baru jika Tripoli jatuh. LNA mengklaim kini telah menguasai 95 persen wilayah Libya.

Memahami Konflik Libya : Mesir dan Saudi Cegah Bercokolnya Ikhwanul Muslimin di Libya

Pekan lalu, PBB mengutuk penghentian pasokan air ke Tripoli oleh LNA yang mengepung kota itu.

Dua juta penduduk Tripoli terancam krisis air.

Libya di masa Khadaffi yang memerintah secara keras, merupakan negara terkaya, paling maju dan stabil di Afrika Utara.

Tapi negara itu runtuh dan terjerumus ke perang saudara sejak 2011, setelah gerilyawan yang didukung serangan udara NATO menggulingkan pemerintahan Khadaffi.

Negara Mediterania sejak itu telah berubah menjadi surga bagi para militan, kelompok teroris dan penyelundupan manusia dari Afrika ke Eropa.

Pada 2011, Khadaffi memperingatkan Tony Blair (kala itu PM Inggris), sel-sel tidur teroris akan mengambil alih kendali Libya, dan mencoba menyerang Eropa jika ia digulingkan.(Tribunjogja.com/ Sputniknews/xna) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved