Tentara Ekuador Kumpulkan 150 Mayat dari Rumah-rumah dan Jalan-jalan di Kota

Satuan tugas gabungan militer dan polisi yang dikirim untuk mengumpulkan mayat-mayat di kota pelabuhan yang dilanda horor telah mengumpulkan 150 mayat

Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
ENRIQUE ORTIZ/AFP
Sebuah peti mati terbungkus plastik terlihat di luar rumah sakit di Guayaquil Ekuador, pada 1 April 

TRIBUNJOGJA.COM - Tentara dan polisi di Ekuador telah mengumpulkan sedikitnya 150 mayat dari jalan-jalan dan rumah-rumah di kota terpadat di negara itu Guayaquil.

Sebanyak 3.500 orang dapat meninggal karena virus corona di kota dan provinsi sekitarnya dalam beberapa bulan mendatang.

Satuan tugas gabungan militer dan polisi yang dikirim untuk mengumpulkan mayat-mayat di kota pelabuhan yang dilanda horor telah mengumpulkan 150 mayat hanya dalam tiga hari, juru bicara pemerintah Jorge Wated mengatakan Rabu malam.

Warga telah mempublikasikan video di media sosial yang memperlihatkan mayat yang ditinggalkan di jalan-jalan di kota Amerika Latin yang paling parah dilanda pandemi.

Beberapa meninggalkan pesan putus asa bagi pihak berwenang untuk mengambil mayat orang yang telah meninggal di rumah mereka.

Pihak berwenang belum mengonfirmasi berapa banyak orang yang mati adalah korban dari coronavirus.

Rosa Romero, 51, kehilangan suaminya, Bolivar Reyes dan harus menunggu satu hari agar tubuhnya dikeluarkan dari rumah mereka.

Seminggu kemudian, di tengah kekacauan sistem kamar mayat kota, dia tidak tahu di mana itu.

"Di biro forensik mereka mengatakan kepada kami bahwa mereka telah membawanya ke Rumah Sakit Guasmo. Kami pergi ke sana untuk menemukannya tetapi dia tidak terdaftar di mana pun," kata Romero kepada AFP.

Jam malam 15 jam yang diberlakukan di kota membuat pencarian lebih sulit.

Juru bicara pemerintah meminta maaf dalam pesan yang disiarkan di televisi pemerintah Rabu malam.

Dia mengatakan pekerja kamar mayat tidak dapat mengikuti pemindahan mayat karena jam malam.

"Kami mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada mereka yang harus menunggu berhari-hari agar orang yang mereka cintai dibawa pergi," kata Wated.

Tumpukan mayat
Pekerja kamar mayat dengan masker dan pakaian pelindung terlihat membawa peti mati terbungkus plastik di kota pada hari Rabu ketika pihak berwenang berusaha untuk mengatasi tumpukan mayat.

Pekerjaan di pemakaman dan rumah duka terhenti, dengan staf yang enggan menangani orang mati karena ketakutan akan penyakit menular.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved