Fakta Hantavirus di China : Virus dari Tahun 1950 yang Kini Kembali Muncul

Ia menunjukan gejala pneumonia tapi bukan karena virus corona (COVID-19), melainkan oleh virus bernama Hantavirus.

Tayang:
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar

Fakta Hantavirus di China : Virus dari Tahun 1950 yang Kini Kembali Muncul

TRIBUNJOGJA.COM - Seorang warga dari Provinsi Yunnan meninggal dunia dalam perjalanan pulang dalam bus menuju ke Provinsi Shandong, pada Senin (23/3/2020).

Ia menunjukan gejala pneumonia tapi bukan karena virus corona (COVID-19), melainkan oleh virus bernama Hantavirus.

Otoritas kesehatan setempat kemudian melakukan pengecekan kesehatan terhadap 32 orang lainnya yang ada dalam bus. Demikian sebagaimana dilaporkan Global Times.

Kemunculan Hantavirus ini juga memicu kepanikan di dunia maya.

Tercatat pada hari abu (25/3/2020) ini, tagar #hantavirus trending di Twitter.

Namun, para ahli dengan cepat menunjukkan bahwa ini bukanlah virus baru dan tidak ditularkan antar manusia.

#Hantavirus pertama kali muncul pada 1950-an dalam perang Amerika-Korea di Korea (sungai Hantan). Ini menyebar dari tikus / tikus jika manusia menelan cairan tubuh mereka. Penularan manusia ke manusia jarang terjadi, ”twit ilmuwan Swedia Dr. Sumaiya Shaikh.

Tweet seorang ahli kesehatan
Tweet seorang ahli kesehatan (Twitter)

"Tolong jangan panik, kecuali kamu berencana untuk makan tikus," tandasnya.

Apa itu Hantavirus?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebutkan Hantavirus adalah keluarga virus yang menyebar terutama oleh tikus dan dapat menyebabkan beragam sindrom penyakit pada orang di seluruh dunia.

Semisal di AS, infeksi Hantavirus menyebabkan penyakit hantavirus pulmonary syndrome (HPS).

Hantavirus lainnya, yang kebanyakan ditemukan di Eropa dan Asia, dapat menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS).

CDC mengatakan hantavirus jarang terjadi - tetapi memiliki angka kematian 38 persen.

Gejala dapat terjadi hingga delapan minggu "setelah terpapar urin segar, kotoran, atau air liur dari tikus yang terinfeksi," kata CDC.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved