Wabah Virus Corona

Dugaan Ahli Mengapa Persentase Jumlah Pasien Virus Corona yang Meninggal Dunia di Indonesia Tinggi

Jumlah pasien yang meninggal akibat virus corona ( COVID-19) tercatatat 25 orang dengan persentase kematian sekitar 8 persen

Editor: Rina Eviana
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Wartawan memakai alat pelindung khusus, seperti sendal karet, baju pengaman khusus, dan masker untuk memasuki laboratorium yang memeriksa sampel media pembawa virus Corona untuk penelitian di Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Sri Oemijati, Jl. Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Selasa (11/2/2020). Total ada 64 spesimen yang dikirim ke lab Badan Litbangkes, 2 kasus diantaranya masih dalam pemeriksaan, sedangkan 62 lainnya negatif virus corona.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG) 

Dugaan Ahli Mengapa Persentase Jumlah Pasien Virus Corona yang Meninggal Dunia di Indonesia Tinggi

TRIBUNJOGJA.COM - Update virus corona COVID-19 di Indonesia, hingga Kamis (19/3/2020) siang mencatat jumlah total pasien positif virus corona yang meninggal dunia mencapai 25 orang.

Sementara pasien yang dinyatakan positif virus corona mencapai 309 orang, atau naik 82 kasus sejak Rabu (18/3/2020) pukul 12.00 WIB.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto mengatakan jumlah pasien yang meninggal akibat virus corona ( COVID-19)  tercatat 25 pasien.

Anggota tim medis mengenakan atribut lengkap saat mengecek kesiapan alat di Tenda Isolasi Virus Corona (COVID-19), RS dr Bratanata, Denkesyah 02.04.02, Korem 042/Garuda Putih, Jambi, Senin (16/3/2020). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan.
Anggota tim medis mengenakan atribut lengkap saat mengecek kesiapan alat di Tenda Isolasi Virus Corona (COVID-19), RS dr Bratanata, Denkesyah 02.04.02, Korem 042/Garuda Putih, Jambi, Senin (16/3/2020). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan. (antaranews)

Dengan pasien virus corona yang meninggal sebanyak 25 orang, angka kematian di Indonesia mencapai sekitar 8 persen.

Melihat presentase kematian seperti itu, Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr Panji Hadisoemarto MPH, merasa tidak terkejut.

Menurut dia, permasalahan utamanya adalah besar kemungkinan Indonesia mengalami under-diagnosis.

Bila lebih banyak kasus bergejala ringan ditemukan, tentu presentase kematian akan menurun.

"Jadi, ada kasus infeksi COVID-19 yang tidak terdeteksi atau terdiagnosis. Mungkin karena sakitnya ringan, mungkin karena RS atau dokternya belum aware kalau itu kemungkinan COVID-19, dan sebab lain. Sebagian di antara yang tidak terdiagnosis ini juga mungkin meninggal," kata Panji saat dihubungi Kompas.com, Rabu (18/3/2020).

Oleh sebab itu, menjadi besar kemungkinan angka dipenyebut atau jumlah kasus terlalu kecil, sehingga presentase kematian dengan jumlah kasus menjadi tinggi angkanya.

"Jadi proporsi yang meninggal saya rasa enggak setinggi itu. Dengan kata lain, angka kematian tinggi mungkin bukan karena virusnya lebih ganas, tapi kitanya yang kurang "ganas" mencari orang-orang yang sakit COVID-19," ujarnya.

Panji pun menambahkan bahwa pada saat ini, kita tidak mengetahui secara pasti dan terperinci tentang hal-hal atau indikator yang berkaitan, dan tidak ada angka yang benar bisa diandalkan.

Prediksi ke depan

Lantas, bagaimana prediksi tren angka kasus dan kematian mendatang di Indonesia? Panji menuturkan bahwa tren ke depannya, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 akan meningkat, bahkan bisa jadi pesat jumlahnya.

Akan tetapi, perihal kematian, masih banyak faktor yang membuat angka prevalensi kematian akibat virus SARS-COV-2 ini terjadi.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved