Wawancara Eksklusif

Menularkan Teladan Pangeran Diponegoro

Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patrapadi), Ki Roni Sadewo mengungkap Keris Kyai Naga Siluman.

Penulis: Andreas Desca | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Andreas Desca Budi Gunawan
Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patrapadi), Ki Roni Sadewo 

TRIIBUNJOGJA.COM - Di tengah serunya diskusi tentang keris Pangeran Diponegoro yang disebut-sebut bernama Kyai Naga Siluman, banyak hal diungkap Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patrapadi), Ki Roni Sadewo.

Wartawan Tribun Jogja, Andreas Desca mewawancarainya secara khusus, Rabu (11/3/2020), dan berikut serial terakhir petikan wawancaranya.

Ki Roni Sodewo : Pangeran Diponegoro Selalu Sebut Bondoyudo

Bagi Pangeran Diponegoro, keris itu dimaknai sebagai apa?
Pangeran Diponegoro tidak pernah menceritakan tentang Keris Naga Siluman di dalam babatnya. Saya belum membaca babat-babat yang lain apakah di babat-babat Diponegoro yang lain menceritakan tentang Keris Naga Siluman.

Tetapi yang perlu diketahui adalah bahwa keris bagi orang Jawa itu tidak hanya berfungsi sebagai senjata, keris bisa berfungsi sebagai senjata, keris bisa berfungsi sebagai piyandel, keris bisa berfungsi sebagai kelengkapan busana atau ageman, tetapi keris juga bisa berfungsi sebagai pusaka.

Nah ini penggunaannya berbeda-beda, kalau keris digunakan sebagai senjata, tentu ini akan digunakan menjadi senjata pertarungan jarak pendek.

Apakah di dalam berperang melawan penjajah, Pangeran Diponegoro selalu menggunakan keris?
Enggak juga, karena teknik pertempuran pada saat perang Jawa, itu di situ sudah ada meriam, sudah ada sanjata lite atau meriam kecil, kemudian sudah ada senapan, sudah ada juga pistol, tetapi tombak juga digunakan. Bahkan tentara-tentara Belanda itu juga ada yang menggunakan tombak panjang atau husan.  Kemudian orang-orang Jawa bisa menggunakan senjata apa adanya bisa kayu, bisa batu bisa bandil, macem-macem.

Jadi keris yang dikembalikan ini kalau melihat sosoknya itu sudah ada patahan-patahannya menurut Profesor Margana. Bisa jadi itu karena benturan. Tetapi bisa jadi patahan-patahan ini karena memang korosi. Masih dibutuhkan riset yang lebih dalam tentang Keris Naga Siluman ini.

Sepengetahuan Anda, masih banyak pusaka atau barang milik Pangeran Diponegoro yang masih ada di luar negeri?
Kalau menurut catatan-catatan yang ada di bukunya Peter Carey, bahwa Pangeran Diponegoro pernah menyerahkan keris kepada salah satu putrinya yaitu Raden Ayu Impun, kemudian keris itu disita oleh Belanda ketika Raden Ayu Impun tertangkap di wilayah Karangwuni, Kulon Progo sini dan keris itu menurut catatan lagi, itu adalah keris yang bergelar Wreksa Gumelar.  Kemudian ada lagi beberapa tombak yang disebutkan Pangeran Diponegoro di dalam babat tapi keberadaannya tidak diketahui.

Nah keberadaannya tidak diketahui ini, apakah itu kemudian dibawa oleh Belanda atau itu disimpan oleh para pengikut Diponegoro atau sudah diserahkan secara resmi oleh Diponegoro oleh anak-anaknya kemudian secara turun-temurun tetapi tidak dirawat dan akhirnya hilang atau dilupakan, bisa saja terjadi. Tetapi yang pasti menurut kesaksian Prof Margana, bahwa di Belanda itu banyak sekali benda yang berasal dari Nusantara.

Bahkan teman saya yang dari Batak, baru saja menyampaikan bahwa kalau bisa jangan hanya pusaka-pusaka Jawa tetapi pusaka-pusaka yang dari Batak pun yang dibawa ke Belanda bisa dikembalikan ke Indonesia.
Sekali lagi, keris bagi orang Nusantara bukan sekedar senjata, bukan sekedar ageman, bukan sekedar piyandel.
Tetapi ketika keris ini berfungsi atau difungsikan sebagai pusaka, ini adalah sangat tinggi sekali posisinya.
Pusaka ini artinya adalah pemberian leluhur. Pusaka tidak hanya berupa senjata tajam, pusaka ini bahkan rumah, tanah, itu kalo bagi orang Nusantara itu adalah pemberian nenek moyangnya, itu adalah pusaka.
Jadi kembalinya pusaka-pusaka Nusantara ke Indonesia itu seharusnya sudah mulai dipikirkan mulai sekarang.

Selama ini apakah trah mendata pusaka atau barang peninggalan Pangeran Diponegoro?
Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro dibentuk utamanya adalah untuk mentautkan kembali tali silaturahmi setelah sekian puluh tahun, sekian ratus tahun terpisahkan, itu yang pertama.

Yang kedua, yang paling penting bagi Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro adalah nguri-uri sejarah, mengangkat kembali sejarah Pangeran Diponegoro, mendongengkan kembali kepada khususnya keturunan Pangeran Diponegoro dan kepada masyarakat pada umumnya.

Menurut kami, ini jauh lebih penting daripada pusaka-pusaka. Pusaka-pusaka ini juga penting tetapi ketika harus memilih mana yang lebih penting, menurut kami yang jauh lebih penting adalah menularkan kembali teladan Pangeran Diponegoro ini kepada masyarakat, kepada generasi muda.

Mengajak masyarakat, mengajak generasi muda untuk mau belajar sejarah dan belajar pada sejarah.
Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro, mengajak masyarakat untuk belajar kembali tentang sejarah Diponegoro itu dengan banyak media.

Dengan bekerjasama dengan Landung Simatupang, mengadakan pentas Aku Diponegoro di beberapa kota di Indonesia, kemudian ada pameran lukisan gambar babat Diponegoro, kemudian adalagi wayang Diponegoro, kemudian ada juga Channel Youtube Roni Sodewo yang menceritakan apa yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro di tempat-tempat yang dituliskan oleh Pangeran Diponegoro.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved