Jawa
Menara Baskoro Jadi Simbol Kegotong-Royongan Warga Soropaten
Bangunan unik yang konon merupakan peninggalan Paku Buwana X Surakarta itu kini berdiri megah setelah dibangun ulang.
Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Bupati Klaten Sri Mulyani Kamis malam (12/3/2020) meresmikan Menara Baskoro.
Bangunan unik yang konon merupakan peninggalan Paku Buwana X Surakarta itu kini berdiri megah setelah dibangun ulang.
Tidak saja menjadi destinasi wisata baru, bagi warga Soropaten, Karanganom, Klaten namun bangunan setinggi 11 meter yang juga terletak di kompleks makam Kiai Karsorejo dimaknai sebagai simbol kegotong-royongan warga setempat.
Bangunan sejarah itu pernah dihancurkan PKI saat memberontak dan hanya meninggalkan pondasinya saja.
• ASN dan Pegawai Diskominfo Klaten Siap Sukseskan Sensus Penduduk Online 2020
Padahal dulu menara ini digunakan beribadah oleh PB X saat berkelana, bahkan PB XI juga ada petilasan.
Ada bangunan bangsal yang ada di salah satu sudut desa Soropaten yang digunakan untuk peristirahatan.
Ketua Sanggar Seni Budaya Pandanwangi, Sri Nugroho mengatakan masyarakat Soropaten bermaksud untuk melestarikan budaya dan peninggalan leluhur khususnya semangat gotong-royong.
“Renovasi Menara Baskoro ini menelan anggaran 300 juta. Pemihakan dari APBD sebanyak 100 juta dan hebatnya swadaya masyarakat terkumpul 200 juta. Ini adalah semangat gotong-royong warga Soropaten termasuk yang di Perantauan,” jelas Sri Nugroho.
Ditambahkan bahwa Menara Baskoro ini dibangun setinggi 11 meter dengan 5 tangga.
• Kunjungi Tribun Jogja, Dwi Sasono dan Widi Mulia Promosikan Film Buku Harianku
Tangga berjumlah 5 ini bermakna rukun Islam dan juga makna julah sila dari Pancasila.
Bagi masyarakat kalau ingin melihat pemandangan Klaten dan Gunung Merapi melalui Menara Baskoro tidak dipungut biaya alias gratis.
Bupati Klaten Sri Mulyani memberikan apresiasi sebesar-besarnya telah merawat budaya pementasan wayang kulit rutin setiap malam Jumat legi sejak 1926 sampai sekarang, termasuk menjaga situs sejarah.
“Semangat gotong royong warga Soropaten ini patut dicontoh. Buktinya pembangunan Menara Baskoro ini menggunakan Anggaran dari APBD 100 juta, tapi namun swadaya dari masyarakat mencapai 200 juta. Saya berharap semangat gotong-royong dan situs – situs sejarah Soropaten terus dijaga,” pesan Sri Mulyani.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/menara-baskoro-jadi-simbol-kegotong-royongan-warga-soropaten.jpg)