Gelar Pameran Tunggal, Srihadi Soedarsono Tampilkan 44 Karya
Dalam pameran tersebut, pelukis senior berusia 88 tahun itu menampilkan sedikitnya 44 buah lukisan bentang alam (landscape)
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Maestro lukis asal Solo, Srihadi Soedarsono, menggelar pameran tunggal bertajuk 'Srihadi Soedarsono -- Man x Universe' di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta yang berlangsung mulai 11 Maret – 9 April 2020 mendatang.
Dalam pameran tersebut, pelukis senior berusia 88 tahun itu menampilkan sedikitnya 44 buah lukisan bentang alam (landscape) yang dikerjakan dalam rentang waktu 2016–2020.
Sejumlah karya yang dipamerkan antara lain Horizon – The Golden Harvest (2018), Borobudur Drawing (1948), Borobudur – The Energy of Nature (2017), Mt. Bromo – The Mystical Earth (2017), Papua – The Energy of Golden River (2017), The Mystical Borobudur (2019), dan Jakarta Megapolitan – Patung Pembebasan Banjir (2020).
Kurator pameran, Rikrik Kusmara, mengelompokkan karya Srihadi dalam empat rumpun besar, yakni Social Critics (Papua Series, Bandung Series, dan Field of Salt), Dynamic (Jatiluwih Series dan Energy of Waves), Human & Nature (Mountain Series, Tanah Lot Series, Gunung Kawi Series), serta Contemplation (Horizon Series dan Borobudur Series)
Menurut dia, seri lukisan landscape merupakan salah satu pendekatan yang sangat dikenal dan menjadi ciri khas dari karya-karya Srihadi.
"Karya-karya Srihadi menginterpretasikan keindahan landscape Indonesia sebagai semangat spiritual atas rasa kemerdekaan dan kebanggaan berbangsa. Landscape dalam perspektif Srihadi adalah tema yang lebih dalam dari sekadar lukisan pemandangan yang menghipnotis orang asing untuk datang berkunjung," katanya dikutip dalam rilis yang diterima Tribun Jogja.
Rikrik menyebut pameran itu juga merupakan pendekatan baru Srihadi dalam mengekspresikan landscape, karena menampilkan berbagai metafora dan simbol yang cukup kompleks.
Srihadi melukis landscape laiknya mencatat kejadian-kejadian, merekam perubahan-perubahan sampai hari ini. Seperti tertuang dalam Horizon – The Golden Harvest (2018, 200 x 400 cm) yang memampangkan pemandangan panen padi era 1970-an.
“Waktu saya kecil diajak kakek berkeliling melihat pemandangan, melihat sawah yang luas. Sekarang, sawah di belakang rumah sudah jadi rumah-rumah. Fenomena ini menjadi paradoks bagi negeri lumbung padi dan tambak garam tapi kekurangan padi dan garam sehingga harus impor,” ujar Srihadi.
Lukisan Papua juga menjadi seri penting dalam pameran ini, yang diwakili Papua – The Golden River Belong to Its People (2017) dan Papua – The Energy of Golden River (2017).
Dua lukisan itu adalah tangkapan ingatan Srihadi atas Papua tahun 1975.
Tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi Papua saat ini, ketika tambang meluas, jalan aspal sambung bersambung, dan luas hutan menyusut.
“Alam Papua bagus sekali dilihat dari atas. Hutan sudah gelap. Yang terlihat hanya sungai mengkilat keemasan terkena sinar matahari sore. Kesan ini yang saya tangkap,” kata Srihadi.
Setelah berselang 45 tahun, Srihadi menghadirkan diskursus tentang Papua melalui dua lukisannya yang akan dipamerkan yakni Papua – The Golden River Belong to Its People (2017) dan Papua – The Energy of Golden River (2017).
“Yang menarik, Srihadi tidak secara eksplisit menggambarkan realitas konteks sosial politik budaya ini, melainkan melalui metafora sungai keemasan (Golden River),” tambah Rikrik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran-tunggal-srihadi-soedarsono.jpg)