Wabah Virus Corona
Begini Cara Korea Selatan Mengatasi Penyebaran Virus Corona Tanpa Menutup Kota
Kabar menggembirakan datang dari Korea Selatan. Setelah sempat berjuang mengatasi virus corona, kini pasien terinfeksi di negeri K-Pop itu mulai
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM - Kabar menggembirakan datang dari Korea Selatan. Setelah sempat berjuang mengatasi virus corona, kini pasien terinfeksi di negeri K-Pop itu mulai turun. Bahkan, selama empat hari belakangan tidak ada kasus baru yang dilaporkan.
Hingga Minggu (8/3/2020), Korea Selatan mendapatkan 7.513 kasus virus corona. Awalnya, negeri ginseng tersebut hanya mendapatkan beberapa kasus saja, tetapi kemudian virus itu jadi mewabah dan menyerang banyak orang.
Menurut kabar, penyebaran itu karena salah satu jemaat sekte di Daegu.
Melansir South China Morning Post, Korea Selatan sudah terlihat stabil selama empat hari belakangan. Padahal sebelumnya mereka adalah negara yang paling banyak terdampak setelah China.
Negara tersebut setidaknya memiliki 500 kasus baru setiap hari dalam dua minggu ini. Baru pada Jumat (6/3/2020), angkat tersebut menurun dari 438, kemudian 367 pada Sabtu dan 248 pada Minggu.
Namun, Presiden Korea Selatan, Moon Jae In mengatakan bahwa negara tak boleh lengah meski penemuan kasus baru virus itu semakin sedikit. "Kita tidak boleh berpuas diri sama sekali," ujarnya.
Pernyataan tersebut digarisbawahi oleh KCDC. Dilaporkan, ada 60 orang lebih yang terinfeksi ketika bekerja di jarak dekat satu sama lain di sebuah perusahaan asuransi.
"Angka total dari kasus baru yang terkonfirmasi memang menurun, tetapi ada perhatian yang berkaitan dengan infeksi masal," ungkap Deputi KCDC Kwon Jun Wook.
Penurunan yang stabil ini bisa disebabkan banyak faktor, seperti tes kesehatan secara masal, komunikasi publik yang berkembang dan penggunaan teknologi. Tak lupa, tes tambahan untuk anggota Gereja Shincheonji yang telah selesai.
Sebab, sebanyak 60 persen infeksi di Korea Selatan berasal dari kasus Gereja Shincheonji.
Bisa dibilang, Korea Selatan mengajarkan dunia bagaimana caranya mengatasi penyebaran sebuah virus tanpa harus menutup kota namun virus juga tidak menyebar banyak.
"Kami berupaya untuk menjaga transparansi di tengah keterbukaan masyarakat. Sehingga, kami merekomendasikan sistem yang responsif dan mampu berbaur dengan partisipasi publik. Kami juga mengaplikasikan teknologi menengah secara kreatif," ungkap Wakil Menteri Kesehatan Korea Selatan, Kim Gang Lip.
Menurut Gang Lip, cara lama seperti menutup area terdampak belum tentu berhasil diterapkan di Korea Selatan.
Hal ini lantaran mereka menjunjung tinggi demokrasi dan justru meminta masyarakat untuk ikut melakukan tindakan pencegahan.
"Partisipasi publik harus diamankan melalui keterbukaan dan transparasi," ucapnya lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin-virus-corona.jpg)