Yogyakarta

GKR Bendara Berbagi Cerita 'Dhaup Ageng' Dalam Talkshow ASMARADANA; A Wedding Showcase

Nurkadhatyan Spa menggelar talkshow prosesi pernikahan adat Jawa dalam acara ASMARADANA; A Wedding Showcase, persembahan Royal Ambarrukmo Yogyakarta d

Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Ari Nugroho
Istimewa
GKR Bendara saat mengisi talkshow prosesi pernikahan adat Jawa dalam acara ASMARADANA; A Wedding Showcase yang digelar Nurkadhatyan Spa 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Nurkadhatyan Spa menggelar talkshow prosesi pernikahan adat Jawa dalam acara ASMARADANA; A Wedding Showcase, persembahan Royal Ambarrukmo Yogyakarta di Kedhaton Ambarrukmo.

Talkshow ini menampilkan cuplikan film “Dhaup Ageng” dan juga menghadirkan GKR Bendara, putri bungsu Sri Sultan HB X sebagai narasumber.

Film "Dhaup Ageng" mengangkat prosesi pernikahan Royal Wedding GKR Bendara dengan KPH Yudhanegara pada Oktober 2011 lalu.

GKR Bendara mengutarakan beberapa makna dalam tradisi pernikahan di Kraton Yogyakarta yang sudah mengenal "gender equality", seperti yang ditunjukkan dalam film.

"Gender equality" ini salah satunya tersirat dalam ritual "wijikan" atau prosesi membasuh kaki pengantin pria oleh pengantin wanita.

Sejumlah Tokoh Hadir Dalam Pahargyan Dhaup Ageng Puro Pakualaman

Hal tersebut melambangkan bakti istri pada suami.

Sebaliknya, sang suami melakukan ritual "pondongan" atau prosesi memondong (menggendong) istri, yang bermakna mempelai pria menghargai mempelai wanita sebagai putri raja.

"Pernikahan itu bukan tentang siapa melayani siapa, tapi kebersamaan sebuah pasangan. Dan itu sudah ada dalam ritual (pernikahan) seratusan tahun yang lalu. Jadi sebenarnya dalam Kraton sudah mengenal "gender equality" sejak zaman dulu. Dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan kedudukannya sama," ungkap GKR Bendara dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/3/2020).

Untuk melengkapi pemahaman akan ritual pernikahan adat Jawa, sebelum talkshow peserta diajak berkeliling di Nurkadhatyan Spa.

Beragam ruangan dan fasilitas perawatan ditunjukkan.

Selain itu juga dijelaskan tentang prosesi perawatan bagi pasangan, sebelum dan setelah prosesi pernikahan adat Jawa ala Kraton Yogyakarta.

Tiga Tari Beksan Ditampilkan dalam Dhaup Ageng Puro Pakualaman

Nurkadhatyan Spa berharap acara ini dapat berkontribusi dalam mengenalkan sekaligus melestarikan budaya Jawa, khususnya untuk adat pernikahan.

"Siapa saja silakan memakai adat Jawa untuk acara pernikahan. Tapi, jangan mengkompromisasi ritual budaya, misal karena keterbatasan waktu. Karena dalam setiap tahap ritual ada banyak doa dan harapan. Meskipun begitu, meng-"simplify" boleh," ujar GKR Bendara.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved