Mengenal Sejarah Jalan Margo Utomo Yogyakarta

Jalan Margo Utomo merupakan nama salah satu ruas jalan yang cukup populer di Kota Yogyakarta.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Hari Susmayanti
Tribunjogja/Wahyu Setiawan Nugroho
Jalan Margo Utomo Kota Yogyakarta menjadi salah satu kawasan bisnis dan wisata terutama hotel dan gedung perkantoran. 

TRIBUNJOGJAWIKI.COM, YOGYAKARTA - Jalan Margo Utomo merupakan nama salah satu ruas jalan yang cukup populer di Kota Yogyakarta.

Ruas jalan ini berada tepat di selatan Tugu Pal Putih Yogyakarta.

Kawasan ini menjadi salah satu pusat bisnis dan pariwisata lantaran banyak hotel berbintang dan gedung perkantoran yang berada di jalan ini.

Terlebih di malam hari, kawasan ini menjadi kawasan yang cukup ramai wisatawan selain Jalan Malioboro karena banyaknya angkringan legendaris yang berjejer di emperan jalan tersebut.

Jalan Margo Utomo membentang dari Tugu Pal Putih Yogyakarta hingga pintu timur Stasiun Tugu Yogyakarta.

Berbatasan langsung dengan Jalan Malioboro di sisi selatannya. Batas hanya dipisahkan dengan rel kereta api dan ruas jalan yang melintang dari barat ke timur.

Sejarah

Jalan yang membentang beberapa ratus meter dari utara ke selatan ini telah mengalami beberapa fase perubahan nama.

Sebelumnya, jalan ini sempat bernama Jalan Pangeran Mangkubumi.

Lantas pada Januari 2013 Pemerintah Kota Yogyakarta berinisiatif untuk mengganti nama tersebut.

Tujuan diganti nama itu disebutkan untuk mengembalikan makna filosofis dari jalan ini yang kala itu dinilai telah melebar dari filosofi sebagai ciri khas Kota Yogyakarta.

Terlebih, lokasi jalan tersebut berada di sumbu filosofi yang membentang dari Tugu Pal Putih hingga Alun-alun Utara hingga Kraton Yogyakarta dan Panggung Krapyak sebagai gambaran hidup raja dan manusia yang diyakini oleh masyarakat dan pihak Kraton Yogyakarta.

Sehingga filosofi jalan tersebut haruslah tetap melekat pada jalan tersebut dan dikembalikan pada nama awalnya yakni Jalan Margo Utomo.

Makna Filosofi

Dikembalikannya nama Jalan Margo Utomo kala itu bukan tanpa alasan. Yakni untuk mengembalikan filosofi sebagai ciri khas Kota Yogyakarta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved