Yogyakarta

Menanti Pengakuan UNESCO, Pemda DIY Siapkan Pengelola Sumbu Filosofis 

Proses pengajuan sumbu filosofis Kota Yogyakarta sebagai salah satu warisan budaya dunia ke UNESCO terus diupayakan oleh Pemerintah Daerah DIY.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
Istimewa
Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji 

TRIBUNJOGJA.COM - Proses pengajuan sumbu filosofis Kota Yogyakarta sebagai salah satu warisan budaya dunia ke UNESCO terus diupayakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.

Ya, berbagai kelengkapan pun disiapkan untuk mempercepat proses tersebut.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, pihaknya saat ini tengah menyiapkan lembaga khusus sebagai pengelola sumbu filosofis ini.

Menurutnya, lembaga tersebut nantinya akan sekelas UPT, yang berada di naungan dinas tertentu.

Pemda DIY Segera Ajukan Dokumen Penetapan KEK Piyungan-Sentolo

"Dibentuk sendiri ya, berbeda dengan UPT Malioboro, karena mereka hanya mengelola Malioboro saja. Kalau ini nanti khusus mengelola sumbu filosofis. Tapi, belum tahu di bawah dinas apa ya, kita baru rembugan," katanya, Rabu (29/1/2020) siang. 

Di samping itu, mantan Kepala Disdikpora DIY tersebut mengatakan, kelengkapan dokumen terkait hasil, atau kelebihan dari sumbu filosofis yang didapat sejauh ini, seperti pendataan tentang bangunan heritage, terus dilengkapi dan dilampirkan dalam persyaratan. 

"Sebenarnya sudah lengkap sih, tinggal pengelolaan itu saja. Namun, supaya lebih meyakinkan, setiap kita mendapatkan bukti-bukti baru, itu langsung kita kirimkan ya," tambah Aji. 

Super Gampang! Tutorial Make Up Khusus untuk Musim Hujan

Paniradya Pati DIY, Beny Suharsono berujar, langkah menuju pengakuan UNESCO terhadap sumbu filosofis pun terus diupayakan.

Ia mengakui, terdapat beberapa hal yang lantas ditambahkannya, sebagai kelengkapan persyaratan, termasuk dalam hal desain.

Benar saja, jika awalnya desain hanya mencakup Tugu Pal Putih sampai Kraton Ngayogyakarta, akhirnya kini diperluas hingga Panggung Krapyak.

Ia pun meyakini, pengajuan sumbu filosofis sebagai warisan dunia ini sudah masuk dalam list assessment UNESCO.

Jumlah Lansia di Atas Rata-rata Nasional, Pemda DIY Siap Fasilitasi

"Itu satu sumbu filosofi utuh. Jadi, perjalanan (menuju Unesco) ini memang butuh waktu ya, karena kami juga tergantung dengan pihak UNESCO untuk melakukan assessment," terangnya.

Namun, perihal waktu, Beny tidak berani menggaransi.

Pasalnya, banyak list lain yang mengajukan hal serupa.

Akan tetapi, lanjutnya, secara prinsip, Pemda DIY siap dengan berbagai sumber daya untuk menjadikannya sebagai warisan budaya dunia yang dilindungi.

"Kami terus berupaya melengkapi kekurangan, serta menambahnya ke dalam dokumen yang kami ajukan. Tentu, termasuk menyiapkan lembaga pengelolanya ya," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved