Sleman

Ingin Pertahankan Tradisi Tenun, Warga Gamplong Kesulitan Regenerasi

Menurutnya, anak muda di tempat tinggalnya lebih memilih bekerja di perusahaan atau pabrik pengolahan makanan yang tidak jauh dari sana.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Salah satu pembuatan tenun tradisional di Dusun Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman 

Laporan Reporter Tribun Jogja Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dusun Gamplong di Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman telah lama dikenal sebagai pusat tenun tradisional.

Dusun ini pun telah dikukuhkan sebagai Sentra Industri Tenun Tradisional.

Namun, warga yang menjadi pengusaha tenun di sana saat ini mengalami sejumlah kendala. Mulai dari masalah harga hingga pegawai.

Waludin, pemilik usaha tenun Ragil Jaya di Gamplong mengatakan dirinya saat ini mengalami kesulitan dalam mencari pegawai baru.

Tenun Pakel Arum Moyudan, Jadi Tempat Belajar Mahasiswa Jepang

"Saat ini karyawan saya rata-rata sudah berusia lanjut, jumlahnya pun sudah tidak banyak," jelas Waludin, Rabu (29/01/2020).

Hal serupa juga disampaikan Arif, pemilik usaha tenun dan cinderamata Sriti Production.

Ia mengatakan anak muda di tempat tinggalnya cenderung enggan melanjutkan tradisi tenun yang sudah berjalan puluhan tahun.

Menurutnya, anak muda di tempat tinggalnya lebih memilih bekerja di perusahaan atau pabrik pengolahan makanan yang tidak jauh dari sana.

Sebab bagi mereka penghasilannya dianggap lebih besar dan menjanjikan ketimbang melanjutkan usaha tenun tradisional.

Di Bekas Kandang Sapi, Warga Sumberarum Moyudan Lestarikan Tenun Tradisional

"Hal itu juga yang membuat tenaga tenun kami jadi berkurang," kata Arif.

Baik Arif dan Waludin mengupayakan ada regenerasi dalam industri tenun tradisional di Gamplong.

Upaya tersebut juga bertujuan untuk melestarikan dusun tersebut sebagai sentra industri tenun.

Salah satu yang saat ini sedang diupayakan adalah meningkatkan upah para pegawai agar bisa setara dengan UMR Sleman.

"Sebab saat ini upahnya masih rendah jika dibandingkan dengan UMR," kata Waludin.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved