Ketika Anak Krisis Pede Akibat Pergaulan
Sesi curhat atau bicara dari hati ke hati tentang berbagai hal antara anak dan orang tua penting dilakukan.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sesi curhat atau bicara dari hati ke hati tentang berbagai hal antara anak dan orang tua penting dilakukan.
Hal ini untuk mengetahui apakah anak memiliki kendala dalam pergaulan baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal.
Aktivitas curhat ketika senggang atau menjelang tidur menjadi hal yang ditunggu sebagian orang tua.
Citra salah satunya. Perempuan yang menekuni bisnis jasa ini merasa beruntung karena anak perempuan semata wayangnya yang saat ini berusia 8 tahun sudah berani mengungkapkan segala hal yang ia alami ketika di sekolah.
Momen menjelang tidur dimanfaatkan Citra untuk menggali kondisi pergaulan si anak selama di sekolah.
Benar saja, dari sesi curhat menjelang tidur malam ini lah ia mendapati bahwa si anak merasa mendapatkan perlakuan dari beberapa temannya sehingga membuat si anak merasa kurang nyaman dan berjung kepercayaan dirinya berkurang.
Belum lama ini Citra sedikit terkejut lantaran si anak bercerita sempat menangis di sekolah karena merasa beberapa temannya enggan bergaul atau berbagi canda bersama.
Citra mencoba berada pada posisi netral dan bersikap menjadi pendengar yang baik.
Ia menyadari, tak boleh hanya mendengarkan satu sisi cerita versi anaknya saja demi kebaikan si anak sendiri.
Rupanya cerita si anak memang benar adanya setelah Citra juga mendapat curhatan serupa dari salah satu orang tua teman anaknya.
"Aku tak serta merta membela anak, tapi aku coba kasih pengertian bahwa teman sekeliling kita memang tak selamanya memenuhi apa yang menjadi kemauan kita. Jadi, bagaimana pun perlakuan teman kita itu hanya sementara, dan harus tetap bersikap baik," ungkap Citra.
Hal yang kurang lebih sama dialami Eni Rosita, anak perempuan keduanya merasa mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman teman kelasnya ketika sedang bermain di jam istirahat.
Bahkan beberapa kali sempat terlihat malas ke sekolah dan tak bersemangat.
Meski anaknya masih berusia delapan tahun dan baru duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, Eni sadar, anaknya mengalami proses tumbuh menuju remaja sehingga secara emosi bakal mengalami fase fase yang membutuhkan pendampingan orang tua.
Eni pun mencoba berkonsultasi dengan guru kelas sehingga bisa turut memantau kondisi pergaulan siswa di sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-ibu-dan-anak.jpg)