Satu Orang Meninggal Dunia Karena Leptospirosis di Sleman pada Awal 2020

Ada 31 kasus penyakit leptospirosis, dengan korban meninggal sebanyak tiga orang di tahun 2019 kemarin.

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ M Fauziarakhman
Grafis Leptospirosis 

TRIBUNJOGJA.COM - Dinas Kesehatan Sleman mencatat ada 31 kasus penyakit leptospirosis dengan korban meninggal sebanyak tiga orang di tahun 2019 kemarin.

Sedangkan di awal tahun 2020, hanya dalam waktu dua pekan saja sudah ada tiga pesien penyakit yang disebabkan oleh kencing tikus ini dan satu orang meninggal duna.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Novita Krisnaeni, saat diwawancarai mengatakan bahwa dua pasiennya kini dalam kondisi membaik.

Jika sejauh ini leptospirosis mengancam petani yang bekerja di sawah, namun dalam kasus ini korban meninggal adalah seorang pedagang di salah satu pasar di Kecamatan Depok.

"Tikus tidak hanya di sawah tapi juga ada di pemukiman penduduk, di selokan bahkan juga di pasar. Korban ini adalah pedagang pasar. Pasar juga berisiko terkena air kencing tikus," ujarnya.

Ia memaparkan, pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Semisal membiasakan mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar ruangan.

Terlebih saat musim hujan, penyakit ini dapat dengan mudah menyebar karena genangan air.

"Bakteri penyebab leptospirosis biasanya masuk ke dalam tubuh manusia lewat luka. Tapi juga bisa melalui mukosa," urainya.

"Masyarakat harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Setelah bepergian cuci tangan pakai sabun, termasuk membersihkan bahan, apalagi setelah belanja di pasar," imbuhnya.

Penyakit ini juga berpotensi menyerang petani, di mana tikus banyak ada di sawah-sawah.

Maka dari itu, ia mengimbau petani untuk mengenakan peralatan seperti sarung tangan ataupun sepatu bot saat bekerja.

"Seperti kasus di Prambanan tahun lalu, tertular melalui jerami yang terpapar kencing tikus," bebernya.

Ia pun mengajak masyarakat mengenali gejala umum dari penyakit ini, seperti demam, mual, dan muntah.

Selain itu ada pula gejala khas berupa nyeri pada bagian betis, dan warna mata berubah menjadi kuning.

"Kami berharap untuk masyarakat memahami gejala penyakit ini, agar tidak terlambat untuk ditangani. Karena jika sudah parah, bisa mengakibatkan kerusakan ginjal," terangnya.

Pengobatan penyakit ini sendiri cukup menggunakan antibiotik yang tersedia di seluruh puskesmas.

Selain itu puskesmas juga telah dilengkapi layanan rapid test yang dapat mendeteksi gejala leptospirosis sejak awal. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved