BMKG : Cuaca Panas di Yogyakarta Bukan Pertanda Musim Kemarau Datang Lebih Cepat

Beberapa hari terakhir, suhu udara di Yogyakarta terasa panas. Padahal, saat ini merupakan musim hujan.

Penulis: Andreas Desca | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNjogja.com | Bramsto Adhy
ILUSTRASI cuaca panas 

Beberapa hari terakhir, suhu udara di Yogyakarta terasa panas. Padahal, saat ini merupakan musim hujan. Beberapa hari ini hujan juga tidak turun di wilayah Yogyakarta.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Mlati, Reni Kraningtyas bahwa kondisi ini lazim terjadi di musim penghujan.

"Perkiraannya masih akan terjadi selama dua atau tiga hari kedepan," tegasnya, Sabtu (18/1/2020).

Adapun penyebab dari fenomena ini, menurut Reni dipicu oleh pola angin.

"Jadi cuaca kali ini dipengaruhi oleh pola angin Barat Daya yang membentuk berairan (divergen) di Jawa, sehingga pembentukan awan hujan di Yogyakarta sangat kecil," paparnya.

Selain itu, kondisi ini juga dipengaruhi oleh fase MJO kering yang dominan di Indonesia bagian Barat.

Cuaca dan Suhu di Wilayah Yogyakarta Kembali Panas Terik, Ini Penjelasan BMKG

"Posisinya (MJO) sekarang di fase enam atau Samudera Pasifik," tegasnya.

Kedua hal ini mengakibatkan cuaca di Yogyakarta cenderung cerah.

"Menurut pengamatan dari pantauan citra satelit himawari, terlihat hampir tidak ada awan di Pulau Jawa," katanya.

Lanjut Reni, cuaca ini mengakibatkan radiasi Matahari yang diterima Bumi menjadi lebih besar sehingga suhu udara terasa panas.

"Namun Kita memprediksi bahwa kondisi iklim ke depannya akan berlangsung normal. Jadi ini bukan jadi pertanda bahwa musim kemarau datang lebih cepat," paparnya.

Awal musim kemarau untuk masing-masing wilayah tentunya nanti akan bervariasi. (Tribunjogja/Andreas Desca)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved