Kota Yogya

Antisipasi Penyakit Antraks, Pemkot Tingkatkan Pengawasan Peternakan Sapi dan RPH di Kota Yogya

Antisipasi Penyakit Antraks, Pemkot Tingkatkan Pengawasan Peternakan Sapi dan RPH di Kota Yogya

Antisipasi Penyakit Antraks, Pemkot Tingkatkan Pengawasan Peternakan Sapi dan RPH di Kota Yogya
Tribun Jogja/Agung Ismiyanto
Seorang jagal atau jutu sembelih sedang memotong daging sapi di rumah pemotongan hewan (RPH) Kota Yogya, Jumat (1/9/2017). Puluhan ekor sapi ini masuk dalam program penyembelihan gratis yang diberikan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kota Yogyakarta meningkatkan pengawasan terhadap peternakan sapi setelah munculnya kasus Antraks di wilayah Gunungkidul.

Langkah ini merupakan antisipasi agar kasus antraks dan munculnya virus Theileria di wilayah DIY tidak menjalar ke peternakan sapi yang ada di Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto menerangkan, saat ini terdapat dua titik di Yogyakarta yang menjadi pusat pemeliharaan sapi yakni di wilayah Bener, Tegalrejo dan juga Kotagede.

Berdasarkan data pada tahun lalu, total terdapat sebanyak 150 ekor sapi yang ada di area itu. Sehingga pihaknya akan memantau sejumlah sapi itu guna memastikan penyebaran tidak sampai ke wilayah kota.

"Kita akan monitoring terus ke area itu, apakah ada kemungkinan gejala-gejala atau tidak yang ditemui di lapangan," kata dia Jumat (17/1/2020).

Kemenkes Pantau Lingkungan Keluarga di Lokasi Endemik Antraks

Kemenkes Sebut Antraks di Gunungkidul Merupakan Kejadian Luar Biasa

Sugeng berpendapat, dari gejala-gejala yang ditemukan dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut nanti akan bisa disimpulkan apakah sapi terkena suatu ganguan penyakit yang fatal atau tidak.

Semisal antraks, pada penyakit itu sapi akan mengalami suhu tubuh yang luar biasa panas serta kotoran yang bercampur lendir atau darah.

"Kalau terjangkit antraks kan suhu sapi yang normalnya 36 derajat bisa malah jadi 41 derajat atau seterusnya. Bisa juga sapinya gelisah dan lain sebagainya. Amatan visual seperti itu yang nanti kita lakukan," imbuhnya.

Dia melanjutkan, dalam amatan yang telah dilakukan pihaknya itu tidak ditemukan gejala yang demikian. Namun, yang diantisipasi oleh pihaknya malah sapi-sapi dari luar wilayah kota yang masuk dalam rumah potong hewan (RPH).

"Karena kan temuan-temuan yang gagal itu ketika memotong di RTH sapinya bukan ternak dari Jogja," sambungnya.

Maka itu, untuk mengantisipasi pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap sapi yang masuk ke sejumlah RTH, baik itu meliputi surat sehat dan sebagainya.

Selain itu juga dilakukan cek ulang pada setiap hewan yang masuk di RTH tersebut. Pasalnya, kata Sugeng, bisa saja terdapat kontaminasi virus pada hewan yang hendak dipotong itu karena jumlah hewan yang masuk tidak sedikit. (Tribunjogja/Yosef Leon Pinsker)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved