Kulon Progo

Perempuan Pedukuhan Pereng Berdaya Lewat KWT Melati

Wanita di Pedukuhan Pereng beralih dari pekerjaan sebagai kuli pemecah batu menjadi produsen aneka keripik dan tepung bebas gluten.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Anggota KWT Melati Pedukuhan Pereng, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih tengah beraktivitas memproduksi keripik dan tepung dari bahan umbi-umbian, Kamis (5/12/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kaum perempuan dari Pedukuhan Pereng, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, mendobrak kebiasaan lama di desanya.

Mereka beralih dari pekerjaan sebagai kuli pemecah batu menjadi produsen aneka keripik dan tepung bebas gluten.

Sudah menjadi semacam tradisi sejak dulu bahwa para ibu di Pereng biasanya akan terlibat dalam industri pertambangan sebagai kuli pemecah batu di antara kesibukan menjadi ibu rumah tangga.

Hal ini dilakukan mereka untuk membantu suami dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya.

Bayaran yang didapatkan tentu saja tak terlalu banyak karena setiap satu kreyeng (keranjang kecil dari bambu) batu pecah hanya dihargai upah Rp 800 saja.

Kulon Progo Berhasil Panen Varietas Padi Penangkal Stunting

Namun, hal itu telah jadi kenangan lama yang ditinggalkan.

Sejak sekitar 2010, kaum ibu itu bergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Pereng yang memproduksi aneka keripik dan tepung gluten free berbahan umbi-umbian seperti singkong, garut, hingga ubi ungu dan juga pisang.

Mereka memanfaatkan bahan baku lokal yang banyak tumbuh di sekitar tempat tinggalnya.

Di kelompok ini, mereka jadi lebih produktif sekaligus menjadi alternatif sumber nafkah yang lebih menjanjikan bagi keluarganya.

Bagi Suwanti dan rekan-rekannya anggota KWT Melati, bekerja memproduksi aneka produk olahan umbi di kelompok tersebut memang jauh lebih nyaman.

Mereka tidak lagi harus menjemur diri di bawah terik matahari seperti ketika saat menjadi kuli pemecah batu dulu.

Penghasilan yang didapat pun jauh lebih jelas.

Kamu Wajib Coba! Tiga Tips Super Gampang Membuat Lipstick Tahan Lama

"Lebih enak kerja di sini. Tidak kepanasan dan penghasilan pasti ada. Uangnya lebih kelihatan ketimbang jadi pemecah batu,"ujar Suwanti, Kamis (5/12/2019).

KWT Melati kini menaungi sekitar 30 anggota dari kaum ibu di Pereng yang dulunya menjadi kuli pemecah batu.

Produk yang dibikin kelompok ini antara lain keripik garut, singkong, ubi ungu, dan pisang selain juga ada sale pisang, tiwul instan, petek, hingga teh rosella.

Ada juga produk tepung bebas gluten yang diklaim bermanfaat baik bagi penyandang autisme.

Aneka produk itu sudah dipasarkan ke berbagai toko swalayan di wilayah Kulon Progo, Kota Yogya, Jakarta, dan lainnya baik melalui penjualan langsung maupun melalui media sosial.

Omzet penjualan untuk produk tepung maupun keripik masing-masing bisa mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan.

Anggota KWT biasanya akan menggarap produk di rumah dengan mengambil bahan baku dari kelompok dan hasilnya akan disetorkan kembali ke kelompok dalam kurun waktu tertentu.

Warga Bantul Ajak Tetangga Sekitar Tekuni Kerajinan Macrame

"Keuntungannya untuk masing-masing anggota namun disepakati lima persennya masuk ke kas kelompok. Mbiyen nutuki watu, saiki ngonceki telo karo garut (Dulu memecah batu sekarang mengupas singkong dan garut)," jelas Ketua KWT Melati, Yuliana.

Kelompok wanita tani ini menurutnya memang didirikan dengan semangat pemanfaatan bahan baku lokal yang banyak tumbuh di lingkungan warga.

Sekaligus, sebagai upaya pemberdayaan perempuan setempat di tengah kondisi banyaknya kaum ibu yang harus banting tulang jadi pemecah batu dengan pendapatan tak tentu.

Setahun kerja keras kelompok ini kemudian bergayung sambut dengan adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Perdagangan dan Dinas Pertanian setempat.

Mereka mendapat pendampingan selain juga ada bantuan peralatan produksi serta peningkatan keterampilan dengan pelatihan pemanfaatan bahan baku lokal.

Dari situ mereka bisa memproduksi lebih banyak lagi varian produk.

Warga Yogyakarta Meraup Rupiah dari Kerajinan Decoupage

"Kendalanya lebih pada ketersediaan bahan baku seperti garut yang bersifat musiman. Ini bisa kami atasi dengan menyetok bahan baku meski tidak bisa terlalu lama. Selain itu juga butuh bantuan permodalanm"kata Yuliana.

Kepala Bidang Perindustrian, Dinas Perdagangan Kulon Progo, Dewantoro mengatakan bahwa kegiatan dari KWT Melati Pedukuhan Pereng ini bisa memberi nilai tambah terhadap perekonomian warga.

Pihaknya berprinsip bahwa bahan baku lokal yang tumbuh di sekitar rumah warga seharusnya memang bisa menjadi sumber nilai ekonomi yang mencukupi kesejahteraan masyarakat.

Pihaknya mencoba memfasilitasi dengan pelatihan peningkatan kualitas produk dan proses produksinya.

"Yang terpenting adalah produksi maupun produk jadinya sudah memenuhi standar sehingga aman dikonsumsi. Produk KWT Melati juga sudah masuk ke Tomira dan kita akan berusaha menciptakan peluang pasar dengan sinergi bersama OPD lain,"kata Dewantoro. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved