Pemerintah Berencana Hancurkan 2 Gedung yang Jadi Saksi Bom Atom Hiroshima, Ini Alasannya

Pemerintah Berencana Hancurkan 2 Gedung yang Jadi Saksi Bom Atom Hiroshima, Ini Alasannya

Editor: Hari Susmayanti
AFP PHOTO/HIROSHIMA PEACE MEMORI
Foto handout ini diambil pada November 1945 oleh Angkatan Darat AS dan dirilis oleh Hiroshima Peace Memorial Museum, menunjukkan kondisi bangunan kubah bom atau yang kini dikenal sebagai The Hiroshima Peace Memorial, tiga bulan setelah insiden bom atom di Kota Hiroshima. Pada 73 tahun lalu, Agustus 1945, AS menjatuhkan bom Little Boy di Kota Hiroshima, Jepang, sebagai tahap akhir PD II yang menewaskan lebih dari 120.000 orang. Setelah Hiroshima, Kota Nagasaki menjadi sasaran berikutnya. 

TRIBUNJOGJA.COM - Dua bangunan yang menjadi saksi atas hancurnya Kota Hiroshima akibat bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika akan diruntuhkan.

Pemerintah Kota Hirosima dikabarkan akan menghancurkan dua gedung yang selamat dari bom atom 1945 silam pada 2022 mendatang.

Dua blok yang dibangun pada 1913 itu awalnya digunakan sebagai pabrik pembuatan seragam militer, dan berganti jadi akomodasi mahasiswa.

Gedung itu kemudian difungsikan sebagai rumah sakit darurat setelah bom atom dijatuhkan AS pada Perang Dunia II.

Menurut penuturan penyintas dilansir BBC Senin (16/12/2019), bangunan itu bisa digunakan sebagai media promosi pelucutan senjata nuklir.

Serangan nuklir itu merontokkan sebagian besar Hiroshima.

Tahun lalu, hanya 85 gedung yang bisa dibangun dengan jarak 5 km dari "ground sero", atau lokasi bom dijatuhkan.

Beberapa blok selamat, setidaknya separuh, karena mereka dibangun menggunakan beton bertulang.

Tak Disangka, Jejak Radiasi Bom Atom Hiroshima Masih Membekas di Kemeja Ini

Serangan itu menghancurkan jendela dan pintu.

Pada 2017 lalu, pemerintah menemukan bahwa konstruksinya rapuh sehingga jika terkena gempa kuat maka bakal kolaps.

Karena itu, otoritas berniat menghancurkannya pada 2022.

Selain karena tak digunakan, kawasan itu juga tak dibuka untuk umum.

Sementara bangunan ketiga hanya akan menjalani perbaikan di dinding, atap, dan betonnya untuk melindungi dari gempa.

Iawo Nakanishi, salah satu penyintas menentang rencana tersebut.

"Tak mungkin kami menerima penghancuran itu," ucapnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved