Travel
Kampung Anggur Plumbungan, Destinasi Wisata Edukasi di Bantul
Kampung Anggur Plumbungan Bambanglipuro, Destinasi Wisata Edukasi di Bantul
Meski tak bisa membeli dan membawa pulang anggur di kebun Rio, Dwi mengaku rasa penasarannya sudah terobati.
"Penasaran saja awalnya, rumah saya di daerah Dlingo, ngga terlalu jauh dari sini. Tapi malah baru tahu sekarang, langsung ke sini, ternyata benar, bagus warga di sini memanfaatkan halaman rumah menjadi produktif," kata Dwi.
Memberi Edukasi Ke Pengunjung
Menyimak cerita Rio yang akhirnya bisa menularkan ilmu berkebun anggur ke pada warga sekitar, memang tak serta merta mulus. Dimulai ketika ia menanam buah anggur lokal jenis isabela pada tahun 2010.
Berselang empat tahun kemudian, ia mulai mengganti pohon anggur tersebut dengan menanam anggur ninel yang berasal dari Ukraina. Rupanya lambat laun usaha Rio mulai menampakkan hasil.
Sebagian warga mulai tertarik mengikuti jejak Rio dengan mendayagunakan halaman rumah masing masing untuk menanam pohon anggur.
Seiring berjalannya waktu kesuksesan Rio mulai diikuti warga lain hingga Dusun Plumbungan ini dikenal dengan sebutan Kampung Anggur.
Rio tak berpuas diri,ia terus mempelajari karakter tiap pohon anggur yang saat ini ia koleksi. Jumlahnya ada sekitar 40 jenis pohon anggur. Petani anggur otodidak ini setidaknya sudah sukses mempraktekkan urban farming.
• Lowongan Pekerjaan Lulusan SMK Bulan Desember Ini, Berikut Penyalur Kerja di Wilayah Yogyakarta
Rio membuat warga sekitar teredukasi dengan perihal memanfaatkan lahan sempit menjadi lebih bernilai secara ekonomi dan lingkungan. Bagaimana tidak, bila saat panen tiba dengan kualitas buah terbaik, Rio bisa menjual Rp 100 ribu perkilogram.
Harga ini juga tidak begitu saja Rio terapkan untuk hasil buah anggur yang ia tanam. Ada alasan kuat mengapa Rio membanderol buah anggurnya dengan harga yang mungkin bila dibandingkan dengan buah anggur impor, bisa jauh lebih mahal.
"Saya juga pengin mengedukasi bahwa, harga tersebut bukan soal hanya buah anggur saja, ada banyak proses yang harus dihargai di sana. Ada kebutuhan dan kesejahteraan petani yang juga harus dipikirkan. Harga segitu adalah harga yang terjangkau untuk buah anggur dengan kualitas bagus," ungkap Rio.
Rio pun mengaku harus cukup sabar menghadapi cercaan pertanyaan soal harga yang ditanyakan pengunjung. Beberapa pengunjung masih saja membandingkan harga anggur di kampung Anggur dengan harga anggur varietas lain di pasar.
Saat ini kampung Anggur bukan saja menjadi destinasi para wisatawan yang tujuan utamanya penasaran mencicip rasa buah anggur dan berfoto ria, namun juga banyak dari instansi pemerintah atau kampus yang melakukan studi banding.
"Dengan adanya hasil yang menggembirakan dari berkebun anggur ini, setidaknya membuka mata kita bahwa bertani tidak hanya melulu padi, kita bisa bertani dan menanam apa saja," imbuh Rio. (Tribunjogja/Yudha Kristiawan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kampung-anggur-plumbungan-destinasi-wisata-edukasi-di-bantul.jpg)