Abdul Halim : Cap Intoleransi Terhadap Bantul Kadangkala Tidak Objektif

Label sebagai Kabupaten intoleransi yang disematkan kepada Bantul kadangkala kurang tepat.

Abdul Halim : Cap Intoleransi Terhadap Bantul Kadangkala Tidak Objektif
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Ketua DPC PKB Bantul, Abdul Halim Muslih, saat ditemui di Kopi Mbako, seusai acara Bantul garis lucu, Jumat (29/11/2019) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Ketua DPC PKB yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, angkat bicara perihal kasus intoleransi yang terjadi di Bumi Projotamansari.

Menurut dia, label sebagai Kabupaten intoleransi yang disematkan kepada Bantul kadangkala kurang tepat.

"Hari ini dicap, dinilai oleh dunia, Bantul salah satu daerah yang intoleransi. Itu bahaya. Yang kadang kadang penilaian itu juga tidak terlalu objektif," kata dia, saat ditemui seusai acara Bantul Garis Lucu di Kopi Mbako, Jumat (30/11/2019) malam.

Ia menerangkan, penilaian yang tidak objektif itu kadangkala karena ada informasi yang tidak diketahui secara utuh.

Misalnya saja, ia menyebutkan kasus teranyar yang terjadi di Mangir Lor, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan.

Menurut Halim, Lurah Desa Sendangsari sudah melakukan klarifikasi bahwa kasus tersebut hanya soal norma sosial saja yang belum terpenuhi.

Bukan kemudian warga Mangir Lor, Sendangsari menolak agama lain. Kasusnya tidak seperti itu.

Namun sayangnya, informasi hasil klarifikasi dari Lurah Desa tersebut, kata dia, seringkali terjadi ketidakutuhan, semacam pemotongan informasi.

"Sehingga orang lain mengecap begitu saja. Bantul kabupaten intoleransi. Itu kan repot," kata dia.

Sebelumnya diketahui, Setara Institute menyoroti kasus intoleransi di Daerah Istimewa Yogyakarta cukup marak.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved