Yogyakarta

Sultan Ingin Pertahankan Pertumbuhan Ekonomi di DIY Setelah YIA Selesai

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X ingin mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi di DIY yang saat ini sudah tumbuh cukup baik.

Sultan Ingin Pertahankan Pertumbuhan Ekonomi di DIY Setelah YIA Selesai
TRIBUNJOGJA.COM / Amalia Nurul
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X memaparkan ingin mempertahankan pertumbuhan ekonomi di DIY setelah YIA selesai, Senin (25/11/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X ingin mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi di DIY yang saat ini sudah tumbuh cukup baik.

Menurutnya, perlu ada inovasi dan kreativitas agar pertumbuhan ekonomi tersebut tidak turun.

"Dengan adanya YIA dan pembangunan yang lain di triwulan ketiga ini pertumbuhan ekonominya diperkirakan oleh Bank Indonesia, DIY 7,3%. Yang sebelumnya hanya 6,4%. Saya mencoba untuk menjaga bagaimana setelah airport selesai pertumbuhan ini tidak turun," ujar Sri Sultan Hamengkubuwono X melalui paparanya dalam pertemuan dengan Ketua Dewan Komisioner OJK, indutri keungan, dan dunia usaha, Senin (25/11/2019) siang di Royal Ambarrukmo.

PT Angkasa Pura 1 Yogyakarta Pastikan 156 Flight Domestik Akan Dipindah ke YIA Januari 2020

Kreativitas dan inovasi dibutuhkan agar nantinya juga dapat membuka lapangan kerja lebih luas bagi masyarakat DIY.

"Kita tidak bisa mundur lagi, harus punya kreativitas dan inovasi bagaimana mempertahankan pertumbuhan ini dan membuka lapangan kerja," tuturnya.

Selain itu, Sultan juga menyinggung komitmennya soal pembangunan tol agar membawa pertumbuhan ekonomi di DIY.

"Komitmen kami, tol ini untuk membawa pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta. Bukan untuk mematikan usaha di Yogyakarta. Sehingga komitmen negosiasi ini kami lakukan. Dengan harapan Yogyakarta makin berkembang ditopang sebagian besar UMKM yang ada," paparnya.

Tak hanya itu, dari segi pariwisata, Sultan ingin ke depan mengubah sudut pandang dari melihat Yogyakarta dari Borobudur menjadi melihat Borobudur dari Yogyakarta.

"Kalau akhirnya pariwisata masih melihat Yogyakarta dari Borobudur, kita tidak pernah berubah. Harapan saya untuk membangun pertumbuhan ekonomi, kita bicara melihat Borobudur dari Yogyakarta," katanya.

Hal tersebut menurutnya menjadi sebuah persaingan dalam industri pariwisata.

"Bukan lalu tidak boleh membangun hotel di Borobudur. Silakan, karena itu persaingan," jelasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Amalia Nurul F
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved