Gunungkidul

Sambut Musim Tanam, DPP Gunungkidul Bagikan Alat-alat Pertanian

Bantuan berupa bantuan rehab jaringan irigasi tersier padi sepanjang 400 hektar yang telah terealisasi.

Sambut Musim Tanam, DPP Gunungkidul Bagikan Alat-alat Pertanian
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto Pangaribowo
Kepala DPP Bambang Wisnu Broto (Tengah) dan Bupati Gunungkidul (Badingah) memberikan bantuan alat pertanian. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Memasuki musim pancaroba DInas Pertanian dan Peternakan (DPP) Kabupaten Gunungkidul memberikan bantuan alat pertanian seperti Hand Traktor, Pompa Air, Hand Sprayer, Pady Mower, Pemipil Jagung, power thraser, dan traktor untuk membantu petani pada musim tanam 2019.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan selain memberikan bantuan alat tani, Pemerintah Kabupaten juga memberikan bantuan berupa bantuan rehab jaringan irigasi tersier padi sepanjang 400 hektar yang telah terealisasi.

"Selain itu juga kami memberikan bantuan perpipaan 5 unit," imbuhnya, Kamis (31/10/2019).

Tutorial Tampil Kece dengan Makeup Sachet yang Praktis dan Terjangkau

Memasuki musim pancaroba ini, sambung Bambang para petani sudah melakukan tabur benih atau lebih dikenal oleh warga sekitar ngawu-awu.

Menurutnya, ngawu-awu sudah menjadi kebiasaan para petani di Kabupaten Gunungkidul, agar saat musim hujan datang para petani tinggal menunggu tanamannya tumbuh.

"Sistem ngawu-awu cenderung aman karena benih berada di dalam tanah memang risikonya kaau benih itu dimakan oleh hewan seperti burung atau ayam," katanya.

Selain itu ancaman lainnya adalah jika hujan turunnya tidak berkelanjutan maka benih juga bisa mati.

Iuran BPJS Kesehatan Naik, Begini Tanggapan Wakil Bupati Gunungkidul

"Kalau hujan hanya turun satu kali dan tidak turun lagi dalam waktu yang lama maka bisa dipastikan ngawu-awu akan gagal untuk itu kami mengimbau kepada petani untuk ngawu-awu saat mendekati musim hujan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Badan Metreologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dengan perkiraan hujan datang yang diprediksi pada minggu ketiga november," jelasnya.

Seorang petani di Kecamatan Patuk Ratno Wiyatno mengatakan, di daerahnya tidak melakukan sistem ngawu-awu, menurutnya hal tersebut disebabkan karena adanya perbedaan jenis tanah.

"Kalau di Patuk harus menunggu musim hujan benar-benar turun, tidak menggunakan sistem ngawu-awu karena tanahnya beda," katanya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved