Kesaksian Peserta Kongres Pemuda Saat Momen Bersejarah Sumpah Pemuda
Peristiwa bersejarah ini diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda, sekaligus menjadi detik-detik kelahiran bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bersatu
"Kok banyak banget? Kan gedungnya kecil?"
"Ya, memang banyak. Gedung itu jadi penuh dan sebagian ada di luarnya. Tapi saya bisa masuk. Ha, ha, ha!" ujarnya.
"Masih ingat bagaimana ketika Sugondo membacakan ikrar itu?" "
"Masih!" Pak Budiman menjawab tegas dan mengangguk dalam-dalam.
"Waktu itu sudah malam. Sugondo membacakannya dengan khidmat. Semua berdiri kecuali yang dari P.I.D. Itu, dinas intelijennya Belanda. Malam itu, Supratman juga memainkan lagu Indonesia Raya dengan violnya. Aduh, dengar lagu itu, hati ini bukan main dah," kata Kwee Thiam Hong sambil memegang dada. Suaranya bergetar dan matanya berkaca-kaca.
"Cuma itu waktu, lagunya agak beda dengan yang sekarang."
Sampai di sini, raut muka Kwee Thiam Hong berubah.
Dengan bersemangat sambil menggerakkan tangannya mengikuti irama, Kwee Thiam Hong bernyanyi
"Indones! Indones! Mulia! Mulia! Begitu itu! Sebab, Belanda itu tidak suka dengar nama Indonesia. Dan kata merdeka itu seperti momok bagi Belanda. Kata merdeka itu saja bisa buat orang masuk penjara."
"Ingat Muhammad Yamin? Dia kan sekretaris panitia Kongres Pemuda II?"
"Ingat betul! Dia juga Jong Sumatranen Bond toh? Dia disebut Gajahmada. Kalau pidato suaranya besar. Bung Karno juga pinter berpidato. Yang dengar bisa diam semua. Kalau abang baca mulai ribut, Bung Karno bilang, "Hei, kamu, diam! Diam! Diam!" Kwee Thiam Hong menirukan sambil menunjuk ke arah yang berbeda.
"Kenal dengan WR. Supratman?"
"Ya, dulu kita sama-sama di Sinpo. Kita sering makan siang bersama. Makan gado-gado atau sate kambing."
Yang dimaksudnya dengan Sin Po adalah surat kabar Cina yang terbit waktu itu.
"Jadi Pak Budiman pernah jadi wartawan?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gedung-sumpah-pemuda.jpg)