Simbol Kerangka dan Darah Muncul di Kain Kafan Saat Ritual Pembukaan Cupu Panjala
Cupu Panjala adalah sebuah benda keramat berupa peti berisi tiga guci kecil yang ditemukan di Pantai Gesing oleh Kyai Sayek (nama asli Kyai Panjala).
Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Mona Kriesdinar
Sisih kulon ana gambar kerangka manusia, Sisih wetan sirah singa, Sisih kulon babon kutuk madep ngalor, Sisih wetan ana bercak darah basah. Itulah beberapa simbol yang muncul di kain kafan saat ritual pembukaan Cupu Panjala di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang Gunung Kidul.
Simbol-simbol itu muncul bersamaan dengan simbol lainnya yang jumlah total mencapai 24 simbol.
Sebagai catatan, Cupu Panjala adalah sebuah benda keramat berupa peti berisi tiga guci kecil yang ditemukan di Pantai Gesing oleh Kyai Sayek (nama asli Kyai Panjala).
Peti ini yang kemudian dibungkus beratus-ratus lembar kain kafan dan hanya dibuka satu tahun sekali dengan ritual tertentu.
Gambar-gambar yang tertera di selebaran kain kafan inilah yang menunjukkan isi ramalan masa depan dan hanya bisa dibaca oleh juru kunci Cupu Panjala.
Adapun isi ramalan meliputi beberapa aspek, seperti pertanian, politik, pertanda zaman, dan sebagainya.
Tahun ini, ritual Cupu Panjala berlangsung pada Senin malam (21/11/2019).
Warga Gunungkidul dan sekitarnya sudah mulai berkumpul di Rumah Dwidjo Sumarto, yang bertempat di Padukuhan Mendak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang.
Warga yang datang ingin melihat upacara adat Cupu Panjala, yang diyakini sebagai ramalan untuk setahun mendatang.
Ratusan warga membawa persiapan semisal tikar, camilan, minuman dari rumah masing-masing.
Tidak hanya orang dewasa saja namun dalam upacara adat tersebut anak-anak juga ikut menunggu pembukaan Cupu Panjala.
Sekitar pukul 23.00 WIB, ratusan warga yang datang dibagi nasi uduk bersama dengan lauknya semisal ayam, pete, jengkol, yang diwadahi dalam sebuah piring.
Dalam upacara pembukaan cupu panjala makan nasi uduk tidak hanya satu kali namun dua kali namun ada yang unik pada makan nasi uduk untuk kedua kalinya yaitu nasi uduk yang dibagikan harus dimakan satu piring berdua.
Menurut Ketua Dewan Kebudayaan, CB Supriyanto makan berdua adalah simbol berbagi antar sesama manusia.
"Jadi kalau ada rezeki yang membuat seseorang itu senang jangan dinikmati sendiri tetapi harus dibagi kesenangannya denan orang lain," ujarnya.
Dalam makan nasi uduk kedua wrga minimal memakannya tiga kali suapan yang juga memiliki makna filosofis sendiri.