Sleman
Selama 2019 Terdapat 26 Kasus Leptospirosis di Sleman
Mendekati musim penghujan, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungannya agar terhindar dari penyakit yang berasal dari tikus ini.
Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Penyakit leptospirosis masih menjadi ancaman yang mematikan.
Mendekati musim penghujan, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungannya agar terhindar dari penyakit yang berasal dari tikus ini.
• Perempuan Cantik Ini Gelapkan 62 Mobil Sewaan untuk Bayar Utang Miliaran
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini, menjelaskan dari data yang dimilikinya, hingga September tahun ini sudah 26 kasus leptospirosis dan satu orang meninggal karenanya.
Sementara tahun lalu, 32 kasus warga Sleman yang terkena penyakit leptospirosis dengan dua diantaranya meninggal dunia.
• Cacar Monyet Penyebarannya Serupa Leptospirosis
Menurutnya, penyakit leptospirosis tidak hanya terjadi karena faktor kebersihan saja, tapi juga faktor cuaca yang ekstrem seperti juga yang terjadi pada 2017.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sleman, jumlah kasus leptospirosis meningkat drastis di 2017 dengan jumlah orang meninggal dunia yang cukup banyak.
Yakni 48 kasus dan 10 orang meninggal. Padahal, di tahun sebelumnya, hanya ada dua kasus leptospirosis dan tidak sampai meninggal dunia.
Maka dari itu, menjelang masuk musim penghujan, ia mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyakit yang disebabkan bakteri leptospira dari urine tikus itu.
Salah satu langkahnya adalah menjaga kebersihan lingkungan.
"Terutama saat musim hujan perlu diantisipasi, aliran air bisa bercampur dengan kencing tikus, bakterinya bisa kemana-mana," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa penyakit leptospirosis banyak menimpa petani. Hal itu dikarenakan tikus-tikus yang berkeliaran di sawah.
• Hingga Bulan April, 12 Kasus Leptospirosis Terjadi di Sleman, 1 Korban Meninggal Dunia
"Petani di sawah harus memakai alat pelindung diri. Selain itu, penyakit ini juga bisa dicegah, salah satunya dengan cuci tangan pakai sabun," imbuhnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mendeteksi gejala orang yang terkena leptospirosis.
Deteksi dini ini berguna untuk menekan jatuhnya korban.
Adapun gejala yang dimaksud seperti gejala mual, muntah, nyeri betis, bahkan badan menguning.
Terkait petani yang rawan terkena penyakit ini, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman Heru Saptono mengatakan pihaknya terus bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dalam memberikan pemahaman mengenai penanganan leptospirosis kepada petani.
"Biasanya petani banyak menumpuk jerami di pematang sawah, dan biasanya itu dimanfaatkan sebagai tempat kencing tikus," bebernya.
Maka ia pun mengimbau, agar petani bisa menjaga kebersihan lingkungannya saat bekerja. Selain itu petani juga dapat menggunakan sepatu bot atau sarung tangan.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-leptospirosis.jpg)