Sleman
Hingga Bulan April, 12 Kasus Leptospirosis Terjadi di Sleman, 1 Korban Meninggal Dunia
Hingga Bulan April, 12 Kasus Leptospirosis Terjadi di Sleman, 1 Korban Meninggal Dunia
Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mencatat ada 12 kasus leptospirosis sampai bulan April 2019.
Satu korban meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan lewat kencing tikus tersebut.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini, memaparkan berdasarkan pantauannya, dari 12 warga sleman yang terserang leptospirosis, terdapat satu orang yang meninggal yang disebabkan terhambatnya penanganan.
"Penderita sudah kena, namun tidak segera periksa, dan saat sudah diperiksa ke fasilitas kesehatan, kondisinya sudah terlambat," jelasnya, Rabu (8/5/2019).
Meski saat ini sedang peralihan musim hujan ke musim kemarau, namun penyakit Leptospirosis masih harus diwaspadai.
• Pembangunan Gedung DPRD Kabupaten Sleman Dimulai Tahun Ini, Telan Anggaran Rp 118 Miliar
• Bupati Sleman Imbau Warga Kurangi Kegiatan Sahur On The Road
Maka dari itu, ia mengimbau agar masyarakat dapat menerapkan perilaku hidup sehat dalam kesehariannya.
Disebutnya, bakteri leptospira interrogans yang menyebabkan penyakit leptospirosis ada di lingkungan persawahan maupun di lingkungan rumah.
“Kalau ke sawah usahakan saat sinar matahari sudah keluar. Pakai sepatu boot. Cuci tangan dengan sabun setelah selesai beraktivitas. Untuk di rumah kalau banyak tikus bisa dibersihkan dengan disiram pembersih ruangan ke titik yang sering dilewati tikus, itu bakterinya bisa mati,” urainya.
Agar tak terjadi keterlambatan penanganan, ia pun mengimbau, jika masyarakat mengalami gejala demam, pusing, mual, nyeri otot terutama di daerah kaki agar segera periksa ke puskesmas. (Tribunjogja I Santo Ari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mengenal-leptospirosis.jpg)