Yogyakarta

Indeks Pembangunan Kebudayaan DIY Tertinggi Nasional

Dari 13 provinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi dengan nilai IPK tertinggi yaitu sebesar 73,79.

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapatkan nilai indeks pembangunan kebudayaan (IPK) tertinggi di tingkat nasional.

Pemerintah Daerah (Pemda) DIY pun bertugas untuk tetap memelihara dan mempertahankan kebudayaan di masyarakat.

“Kami sudah menerima penghargaan ini dari Jakarta dan  ini pertama kali diberikan,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY, Aris Eko Nugroho kepada Tribunjogja.com, Jumat (11/10/2019).

Dia menambahkan, ada 13 provinsi di Indonesia yang memiliki nilai IPK di atas angka nasional sebesar 53,74.

Grebek Pasar Isuzu Traga, Lebih Dekat ke Konsumen

Dari 13 provinsi tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY) merupakan provinsi dengan nilai IPK tertinggi yaitu sebesar 73,79.

Selain DIY, provinsi yang nilai IPK-nya di atas IPK nasional yakni Bali 65,39, Jawa Tengah 60,05, Bengkulu 59,95, Nusa Tenggara Barat 59,92, Kepulauan Riau 58,83, Riau 57,47. Kemudian Jawa Timur 56,66, Sulawesi Utara 56,02, DKI Jakarta 54,67, Kepulauan Bangka Belitung 54,37, Lampung 54,33, dan Kalimantan Selatan 53,79.

“Ketugasan kami adalah tetap berusaha memelihara dan mengembangkan kebudayaan, khusus untuk tujuh obyek kebudayaan. Nilai-nilai budaya, pengetahuan dan teknologi, bahasa, adat istiadat, tradisi luhur, benda dan seni,” urainya.

Meski memiliki IPK tertinggi, tugas dari Pemda DIY adalah mencari peluang-peluang untuk meningkatkan nilai dari sekarang ini.

Lestarikan Batik, Sejumlah Pejabat Pemda DIY Ikut Fashion Show Batik

Masyarakat di DIY, kata dia, pun sudah memiliki kesadaran untuk merawat dan memelihara nilai kebudayaan.

“Yogya juga dikenal sebagai penghasil seniman, hal ini pula yang menjadikan salah satu parameter,” jelasnya.

Meski demikian, ada beberapa hal yang masih dievaluasi, diantaranya adalah banyak kegiatan atau event yang di awal tidak terinformasikan.

Hal ini karena ada beberapa kesulitan dan kebingungan yang akan disampaikan pada masyarakat.

Event ini, biasanya kemasan mendadak dan tidak terinformasi,” jelasnya.

Selain itu, tata nilai budaya diharapkan menjadi roh dan apapun yang berkaitan kebudayaan jadi roh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved