ADVERTORIAL
Bangun Mahasiswa Berkarakter Unggul, UTY Gelar Asistensi Agama Islam
Asistensi selama satu semester ini wajib diikuti mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Agama Islam.
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAKARTA - Dalam upaya membangun karakter unggul dan ahlakul karimah bagi seluruh civitas akademika, Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) menggelar Asistensi Agama Islam (AAI).
Acara yang diikuti para mahasiswa baru UTY yang beragama Islam ini dilakukan di Masjid Kampus 1 UTY, Senin (7/10/2019) dengan pembicara KH Jazilus Sakhok, Pengasuh Pondok Pesantren Pandanaran Jalan Kaliurang, Ngaglik, Sleman.
Adapun tema yang diusung adalah “Membangun Generasi Mileneal yang Qurani dan Berahlakul Karimah”.
Tema ini berkaitan erat dengan konsep Kampus UTY, bahwa keberhasilan membangun sumber daya manusia yang berpengetahuan sekaligus berahlakul karimah, merupakan tolok ukur keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan di institusi pendidikan, termasuk perguruan tinggi.
• Grebek Pasar Isuzu Traga, Lebih Dekat ke Konsumen
Asistensi selama satu semester ini wajib diikuti mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Agama Islam.
Materi asistensi dibuat terintegrasi dengan mata kuliah Agama Islam, berupa materi tuntunan ibadah terutama salat, pelajaran baca Al Quran dan materi pendidikan ahlak.
Selama mengikuti asistensi agama Islam para mahasiswa baru didampingi oleh mentor-mentor berjumlah 60 orang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Islam (IKMI) UTY.
Dalam ceramahnya, Jazilus menyampaikan bahwa tema Asistensi Agama Islam tersebut sangatlah tepat.
Karena orang-orang dengan kriteria qurani dan berahlakul karimah, merupakan kelompok orang yang islam yang sempurna di mata Allah.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa pembentukan ahlak mulia/ahlakul karimah, dan taat ibadah khususnya bagi generasi muda mempunyai peranan sangat penting dan jangka panjang dalam berkarya nantinya, berkehidupan masyarakat dan bahkan sampai akhirat.
• UTY Kembali Kirim Mahasiswa ke Eropa
“Konsep ahlakul karimah dalam islam adalah berada di tengah-tengah. Yakni, ditengah-tengah dalam hal bers ikap, berperilaku, berpikiran dan bahkan dalam beragama, jangan sampai ekstrim. Di tengah konteks beragama, yakni diantara orang-orang yang malas beragama dengan orang-orang yang ekstrim dalam beragama, dalam artian merasa dirinya paling shalih,” kata Jazilus.
Oleh sebab itu, Jazilus berpesan untuk berhati-hati dalam belajar memahami agama dan keaktifan kegiatan agama.
Jangan sampai terseret ajaran ekstrim yang menjurus p ada ajaran yang merasa dirinya atau kelompoknya paling islami.
Dan selanjutnya memandang orang/kelompok lain yang berbeda, adalah kelompok yang salah atau tidak islami.
Merasa paling benar itu merupakan bibit kesombongan, sedangkan Allah tidak ridho dengan kesombongan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bangun-mahasiswa-berkarakter-unggul-uty-gelar-asistensi-agama-islam.jpg)