Bantul
Pengrajin Batik Tulis di Bantul Kembangkan Batik Motif Papua
Kampung Batik Giriloyo di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul sudah lama dikenal sebagai sentra batik tulis di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kampung Batik Giriloyo di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul sudah lama dikenal sebagai sentra batik tulis di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebagai sentra batik, ada banyak ragam motif yang bisa dijumpai ditempat ini.
Mulai dari motif populer hingga klasik macam wahyu temurun, sidoasih, truntum, sekar jagad hingga kawung.
Sebagai warisan budaya Nusantara, permintaan kain batik dipasaran terus mengalami peningkatan.
Belakangan, bukan hanya motif batik khas Yogyakarta saja yang digemari.
• Ratusan Orang dari 10 Instansi di Sukonandi Yogyakarta Membatik Bareng di Kain Sepanjang 25 Meter
Para perajin kini mulai mengembangkan motif batik daerah lain sesuai dengan permintaan pasar.
Salah satunya adalah batik tulis dengan motif Papua.
"Awalnya sebagai perajin batik, saya memproduksi motif pop dan klasik. Kemudian ada irama pewarnaan yang mirip-mirip akhirnya terus berkembang. Sejak Februari 2019 selain pop dan klasik, saya mulai produksi Batik Papua," kata Ahyar Muzakki, perajin batik tulis Sidomukti di nol kilometer Giriloyo, menceritakan awal mula membuat batik Papua.
Ahyar menjelaskan batik motif Papua yang ia produksi merupakan pesanan khusus.
Desain motifnya limited edition.
Permintaan langsung dari mitra kerjanya yang ada di Papua.
"Jadi tidak saya jual disini. Semua penjualan dikirim langsung ke reseller saya di Papua," kata dia.
Batik Papua yang diproduksi Ahyar memiliki motif dan corak yang sangat beragam.
Mulai dari wajah kepala suku, rumah adat hingga peralatan tradisional macam Koteka, Palu, dan Kapak.
Semua motif digoreskan indah dalam lembaran kain.
Batik Papua dengan batik Yogyakarta, menurut Ahyar, memiliki sejumlah perbedaan.
Paling jelas terlihat ada dikontruksi warna.
Batik Papua memiliki dominasi warna cerah mencolok. Sedangkan Yogyakarta identik dengan warna kalem.
"Batik Papua memiliki warna tajam tetapi isian motifnya simpel. Sementara Yogyakarta lebih endemik namun isian rumit," terang dia.
• 3 Musisi Dunia Akan Semarakkan Batik Music Festival 2019 pada 5 Oktober 2019
Awal mula coba membuat batik Papua, Ahyar mengaku sempat mengalami kesulitan.
Karena kontruksi warna yang sangat tajam.
Namun, setelah sempat mengalami sejumlah perbaikan akhirnya kini sudah mulai terbiasa.
Dalam satu bulan, Ahyar mengaku mampu memproduksi pesanan batik tulis bermofif Papua sedikitnya 140 lembar.
Pesanan itu dikirim secara bertahap setiap lima belas hari sekali.
"Sekali kirim dalam setengah bulan itu 70 lembar. Satu bulan sekitar 140 lembar," urai dia.
Adapun harga untuk batik tulis Papua, dijual dengan harga variatif.
Kisaran angka Rp 500 ribu sampai dengan Rp 1,2 juta rupiah.
Tergantung pilihan jenis kain, kontruksi pewarnaan dan desain motif yang dilukiskan.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ahyar-muzakki-perajin-batik-tulis-sidomukti-di-giriloyo-menunjukkan-batik-tulis-motif-papua.jpg)