Pendidikan
Pesawat Ashwincarra Berhasil Raih Juara 3 dalam Kompetisi di Turki
Ashwincarra merupakan UAV tipe fixed wing dengan kemampuan manuver yang mampu lepas landas, mendarat jelajah serta mendeteksi, mengikuti UAV lain.
Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Prestasi membanggakan kembali diukir oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada.
Kali ini, Pesawat Ashwincarra besutan tim Gamaforce UGM berhasil unjuk kebolehan di Tecno Fest Fighter UAV Competition di Istanbul Turki.
Dalam kompetisi yang dilaksanakan pada 11-14 September 2019 ini, Tim Gamaforce UGM berhasil meraih juara 3 setelah sebelumnya berkompetisi dengan 345 tim lain dari berbagai negara yang ada di dunia, serta bersaing dengan 20 robot terbang tangguh lainnya.
• Isuzu Traga, Extra Untungnya, Lega Muatannya! Buktikan di Pasar Nduku Magelang
Ariefa Yusabin, Ketua Tim Gamaforce UGM menjelaskan pada kompetisi ini setiap tim diwajibkan untuk mengikuti minimal lima ronde terbang.
Di dalam babak final, pesawat Ashwincarra terbang bersama dengan sembilan pesawat tim lain.
"Setiap pesawat dituntut untuk berhasil mengikuti dan mengunci lawan sekaligus harus bisa menghindar dari kunci pesawat lainnya. Apabila pesawat yang diterbangkan dikunci pesawat lawan maka akan mendapatkan pengurangan poin dari juri," ungkapnya pada Kamis (26/9/2019).
Ariefa menjelaskan, tidak mudah untuk bisa memenangkan kompetisi ini, lantaran medan terbang yang tidak terlalu luas, hanya sekitar 300x500 meter.
Oleh karenanya, kemampuan pilot dalam mengendalikan pesawat dan performa sangatlah menentukan, utamanya saat melakukan manuver.
• Seperti Ini Kecanggihan Drone Ashwincarra Karya Tim Gamaforce UGM, Mampu Terbang Hingga 150 km/jam
"Kami satu-satunya tim dari Indonesia. Untuk meraih juara kompetisi ini tidaklah mudah, pesawat sempat mengalami kerusakan parah saat melalui ronde ketiga. Pesawat kita sempat mengalami kesulitan kandung karena faktor cuaca yang tidak bersahabat," ungkapnya.
Dosen Pembimbing Tim Gamaforce, Andi Dharmawan mengungkapkan Ashwincarra merupakan UAV tipe fixed wing dengan kemampuan manuver tinggi yang mampu lepas landas, mendarat jelajah serta mendeteksi, mengunci dan mengikuti UAV lain.
Pesawat ini memiliki bobot 3,8 kg dengan kecepatan 150 km/jam yang menjadikannya paling unggul dalam mengejar pesawat lawan maupun menghindari dari kemungkinan terkunci oleh pesawat lawan.
Andi menjelaskan jika pesawat ini juga dilengkapi telemetry 433MHz 100mW, Modul GPS dan sensor kamera 8 megapiksel.
• Pesawat Nirawak Ashwincarra Karya Tim Gamaforce UGM Torehkan Prestasi di Turki
Selain itu, juga First Person View (FPV) Camera dengan FOV 165° at 1080@60fps, Flight Controller Pixhawk, Electronic Speed Controller (ESC) 100A, Video Transmitter 5.8GHz, serta baterai litium 15Ah 14.8V 65C.
"Kita riset sudah dari 2011, awalnya untuk kebutuhan masyarakat. Sebelumnya kita juga pernah gunakan untuk monitoring dan mapping di Kalimantan maupun Sumatera, di perkebunan untuk petakan penyakit tanaman dari atas," ungkapnya.
Andi menjelaskan, jika nantinya pesawat ini juga akan digunakan untuk membantu BPBD dalam memetakan kebakaran hutan, yang mana nantinya akan ditambah sensor khusus.
"Ke depan kerjasama dengan BNPB untuk memetakan kebakaran hutan. Kita memastikan pusatnya dimana, bisa bantu pihak terkait untuk padamkan atau petakan daerah terkait. Jika dibandingkan dengan pesawat sungguhan ini lebih murah. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pesawat-ashwincarra-berhasil-raih-juara-3-dalam-kompetisi-di-turki.jpg)