Jawa

Riset Unggulan Daerah Kota Magelang Terus Didorong

Hasil penelitian dari kedua riset yang difasilitasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kota Magelang tersebut diharapkan dapat diimple

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Presentasi Riset Unggulan Daerah 2019 di Balitbang Kota Magelang, Selasa (24/9/2019). Ada dua penelitian yakni pengelolaan sampah organik dengan BSF dan potensi pencemaran bakteri dari tempat pemotongan hewan. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Riset unggulan daerah di Kota Magelang terus menerus didorong.

Seperti dua penelitian tahun 2019 ini, pengelolaan sampah organik dengan lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) dan potensi pencemaran bakteri E Coli dan Salmonella dari tempat pemotongan hewan.

Hasil penelitian dari kedua riset yang difasilitasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kota Magelang tersebut diharapkan dapat diimplementasikan dan memberikan solusi atas permasalahan sampah organik hingga pencemaran air yang ada di masyarakt.

Peneliti dan pengajar dari Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Agus Prasetya, beserta tim, melakukan penelitian terkait Optimalisasi Biokonversi Sampah Organik Pasar dengan BSF.

Lalat BSF ini diklaim mampu mereduksi sampah organik hingga 70 persen dalam waktu singkat.

38 Peserta Diklatpim III dari LAN Studi Ke Kota Magelang

Cara ini dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan metode pengolahan sampah organik lain seperti dengan pengomposan yang memakan waktu lama.

"Kami rasa sangat efektif. Dari hasil penelitian kami, sampah organik dapat direduksi di atas 70 persen, dan waktunya cepat per hari. Dari keefektifan lumayan, kalau dibandingkan dengan pengomposan biasa yang lama," tutur Agus, Selasa (24/9/2019) dalam presentasi Riset Unggulan Daerah 2019 di Balitbang Kota Magelang.

Pengolahan dengan BSF ini menurut Agus mudah untuk diimplementasikan, baik di skala rumah tangga, menengah sampai besar.

Modal awalnya tak memakan biaya banyak.

Sekali saja setiap siklus.

Larva dari BSF yang menjadi agen perombak sampah organik dapat dipanen dan digunakan untuk pakan ternak, bahkan bisa dijual.

"Cara pengolahan sampah organik dengan BSF ini sendiri cukup mudah. Masalah kebiasaan saja untuk mengimplementasikan ini. Kalau sudah terbiasa ya akan bisa. Bisa dilakukan oleh semua orang.

Modalnya hanya di awal saja. Perlu telur, perlu bayinya, kalau sudah punya putaran dan siklus jadi lalat. Dikawinkan, bertelur, kan sudah tidak beli telur lagi, setelah siklus berjalan." tutur Agus.

Kendati demikian, BSF memiliki keterbatasan. BSF hanya dapat merombak sampah organik yang basah.

Sementara sampah organik yang kering seperti daun-daun kering, ranting atau rumput kering disarankan untuk dikomposkan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved